it just blog, about my opinion, about what i think, about another place for me to learn
Kamis, 31 Januari 2013
Kamis, 10 Januari 2013
5CM
Kemarin akhirnya bisa nonton 5 CM, yang lagi banyak diperbincangkan. Nice movie… yaaaa gw pribadi suka dengan gambar pemandangan di sekitar gunungnya. Pengambilan yang bagus untuk Rizal mantovani yang sebelumnya ga pernah buat film dengan genre semacam ini.
Cuma, ga tahu kenapa, sejak beberapa bulan yang lalu agak sinical sama film-film yang ditonton. Waktu nonton Perahu Kertas bukannya menghayati ceritanya, malah sibuk ketawa ketiwi denger penggalan-penggalan kalimat cinta dari para pemerannya.
Beda lagi waktu nonton Breaking Dawn. Ekspetasinya film ini bakal seru dan keren, nyatanya, sepanjang film gw hanya menikmati sosok Edward yang menurut gw tampil paling baik di film ini. Lebih mature, dengan muka yang ga begitu putih seperti di seri Twilight sebelumnya. Tapi diluar itu semua, film ini menyebalkan. Yaaaaa selain karena penutup dari rangkaian Twilight, film ini ga layak ada, maksudnya, ya ga perlu dijadiin part 2, bikin aja sekalian jadi Breaking Dawn tanpa ada part 2. Makanya yang ada sepanjang film Breaking Dawn ini, gw dan Woro temen gw, hanya tertawa mengomentari setiap adegan, dan isinya hanya kekonyolan.
Balik lagi ke 5cm. Diluar itu semua…. gw suka film ini. Walaupun menurut gw, pemainnya yang cukup baik tampil disini ya Junot seorang. Junot yang selama ini dapat peran yang wajar-wajar saja, cukup apik memainkan si Zafran, penyair wanna be. Fedi Nuril pun tetap tampil baik dengan peran si genta yang paling dewasa diantaranya, namun entah kenapa, gw agak kurang sreg sama acting dia, kurang gimana gitu. Denny Sumargo si atlet basket yang kini jadi pemain film, memang pas memerankan Arial yang hoby ngegym, tapi yaaaaa sebagai pendatang baru, dia hanya cukup baik, tidak baik ya menurut gw.
Scene-scene persahabatan di 5cm menurut gw kurang mencair, seperti terpaku pada dialog-dialog yang ada. Untungnya, Junot tampil konyol di setiap adegan yang mampu membuat scene-scene persahabatan ini mengurai tawa dari para penonton.
Sebelum menonton film ini, gw berekspetasi bahwa film ini penuh adegan dramatis naik gunung. Tapi itu semua gw ga dapat di film ini. Entah karena Rizal memang ingin senatural mungkin menggambarkannya atau memang kurang bsia membuat dramatisasi scene-scene ketika mereka naik gunung.
Tapi diluar itu semua, gw sangat menyukai ending yang benar-benar tidak terduga. Dan bagaimana penonton diajak untuk peka dari setiap ekspresi dari tokoh-tokoh di film ini. Tentu tidak akan pernah menduga bahwa yang dicintai Riani adalah Zafran yang sebenarnya diceritakan sedang tergila-gila dengan Adinda, adik Arial yang diperankan Pevita Pearce. Dan perlu beberapa waktu untuk menyadari bahwa dari awal sebenarnya Adinda lebih naksir dengan Genta daripada Zafran.
Itu lucunya film ini menurut gw dan membuat film ini memiliki hal yang menarik untuk disaksikan. Selain provokasi untuk lebih mencintai tanah air.
(Tulisan ini emang agak aneh. Soalnya pas nulis ga langsung dipublish kesini, jadi udah lupa ada ide apa waktu ulis ini)
Cuma, ga tahu kenapa, sejak beberapa bulan yang lalu agak sinical sama film-film yang ditonton. Waktu nonton Perahu Kertas bukannya menghayati ceritanya, malah sibuk ketawa ketiwi denger penggalan-penggalan kalimat cinta dari para pemerannya.
Beda lagi waktu nonton Breaking Dawn. Ekspetasinya film ini bakal seru dan keren, nyatanya, sepanjang film gw hanya menikmati sosok Edward yang menurut gw tampil paling baik di film ini. Lebih mature, dengan muka yang ga begitu putih seperti di seri Twilight sebelumnya. Tapi diluar itu semua, film ini menyebalkan. Yaaaaa selain karena penutup dari rangkaian Twilight, film ini ga layak ada, maksudnya, ya ga perlu dijadiin part 2, bikin aja sekalian jadi Breaking Dawn tanpa ada part 2. Makanya yang ada sepanjang film Breaking Dawn ini, gw dan Woro temen gw, hanya tertawa mengomentari setiap adegan, dan isinya hanya kekonyolan.
Balik lagi ke 5cm. Diluar itu semua…. gw suka film ini. Walaupun menurut gw, pemainnya yang cukup baik tampil disini ya Junot seorang. Junot yang selama ini dapat peran yang wajar-wajar saja, cukup apik memainkan si Zafran, penyair wanna be. Fedi Nuril pun tetap tampil baik dengan peran si genta yang paling dewasa diantaranya, namun entah kenapa, gw agak kurang sreg sama acting dia, kurang gimana gitu. Denny Sumargo si atlet basket yang kini jadi pemain film, memang pas memerankan Arial yang hoby ngegym, tapi yaaaaa sebagai pendatang baru, dia hanya cukup baik, tidak baik ya menurut gw.
Scene-scene persahabatan di 5cm menurut gw kurang mencair, seperti terpaku pada dialog-dialog yang ada. Untungnya, Junot tampil konyol di setiap adegan yang mampu membuat scene-scene persahabatan ini mengurai tawa dari para penonton.
Sebelum menonton film ini, gw berekspetasi bahwa film ini penuh adegan dramatis naik gunung. Tapi itu semua gw ga dapat di film ini. Entah karena Rizal memang ingin senatural mungkin menggambarkannya atau memang kurang bsia membuat dramatisasi scene-scene ketika mereka naik gunung.
Tapi diluar itu semua, gw sangat menyukai ending yang benar-benar tidak terduga. Dan bagaimana penonton diajak untuk peka dari setiap ekspresi dari tokoh-tokoh di film ini. Tentu tidak akan pernah menduga bahwa yang dicintai Riani adalah Zafran yang sebenarnya diceritakan sedang tergila-gila dengan Adinda, adik Arial yang diperankan Pevita Pearce. Dan perlu beberapa waktu untuk menyadari bahwa dari awal sebenarnya Adinda lebih naksir dengan Genta daripada Zafran.
Itu lucunya film ini menurut gw dan membuat film ini memiliki hal yang menarik untuk disaksikan. Selain provokasi untuk lebih mencintai tanah air.
(Tulisan ini emang agak aneh. Soalnya pas nulis ga langsung dipublish kesini, jadi udah lupa ada ide apa waktu ulis ini)
Rabu, 12 Desember 2012
So Far Away In Your B'Day
Jadi ceritanya hari ini adalah ulang tahun mantan saya yang sudah kembali jadi pacar.. (ya..ya..ya...)
Karena jarak yang jauh (dia sedang di Aceh) sepertinya ga worth it untuk kirim kado ke Aceh sana yaaa...
Dan honestly, dengan kesibukan ini, saya juga agak kebingungan untuk cari kado yang pas. (agak trauma juga dengan kado tahun lalu sih sebenernya).
Jadi saya memutuskan untuk membuat tulisan diatas dengan tambahan 3 foto lainnya. Tapi niat awalnya sebenarnya bukan hanya hadiah foto ini, tapi juga maksudnya mau rangkaian bunga yang akan menjadi surprise di pagi tanggal 12 bulan 12 tahun 2012 ini. Namun, satu kenyataan pahit harus saya terima merusak semua rencana saya. Ternyata begitu sulit mencari florist di Aceh yang menyediakan rangkaian bunga segar.
Saya mencoba browsing di Internet, dan mendapatkan beberapa nama florist. Tanpa berlama-lama saya telepon beberapa florist tersebut untuk menanyakan harga dan rankaian bunganya.Tapi yang ada, dari sekitar 5 florist yang saya telpon, semua menjawab "hanya melayani papan bunga, tidak rangkaian bunga."
Iya sih ketika browsing saya sempet membaca bahwa di Aceh sebenarnya kekurangan sumber daya bunga segar dan sumber daya manusia yang bekerja di bidang itu. Saya pikir itu kelebayan dari pihak florist, tapi ketika saya tanya kepada salah satu florist yang saya telpon untuk memberikan referensi, si tukang florist mengatakan "di Aceh kayaknya cuma ada papan bunga, ga ada yang rangkaian bunga."
Ya jadilah kado buat si dia tahun ini hanyalah, 3 foto dan serangkaian kalimat, bukan serangkaian bunga. Mungkin itu resiko macarin jurnalist begini. ;p
Senin, 26 November 2012
20-an
Sungguh lucu membayangkan, sebaris kalimat akad dapat merubah hidupmu selamanya!
Teman SMP punya anak, temen genk SMA baru aja hamil, yang lain mau nikah minggu depan, yang lain lagi baru aja melahirkan. What a years!!!
Tahun ini benar-benar penuh dengan perubahan. Perubahan karena memang begitu adanya. Berubah status, berubah impian, berubah karier, sampai berubah penampilan, atau mungkin berubah menjadi single di umur sekarang.
Para sahabat itu sudah menemukan kehidupannya yang lain, sisanya tinggal menunggu dilamar sama siapa, lucu! Tahun ini saya ditinggal nikah oleh tiga sahabat saya. Putri yang menikah Febuari lalu, dan dalam waktu setahun 2 kali berubah status, menjadi istri lalu menjadi ibu, Tanti yang menikah April lalu dan sekarang sedang hamil dua bulan, lalu Lisha yang akan menikah minggu depan dengan pacarnya yang kuancam untuk segera menikahi sahabatku yang sudah 7 tahun ia pacari. What a life kan?!
Ironisnya, ketika sahabat-sahabat sudah berani memutuskan untuk menjalani tanggung jawab yang begitu besar, aku masih berkutat soal kegagalan percintaan kemarin. Iya sekarang sudah memulai kembali, tapi hubungan ini seperti memulai dari awal, jadi tidak ingin terlalu banyak ekspetasi walaupun orientasi hubungan ini katanya berbeda dari yang dulu.
Belum lagi selesai memikirkan para sahabat yang berubah status ini, kemarin baru saja mendengar kabar sahabat pacar yang juga naik pelaminan. Ohhhh tahun berapa ini, berapa umur kita sekarang?! Itu yang terlintas di pikiranku ketika menerima semua kabar ini.
Ok! Gw dan teman genk SMA memang punya lingkungan yang berbeda. Kepindahan gw ke kota Jakarta ketika lulus SMA membuat gw beranjak dewasa jauh dari mereka. Lingkungan kami berbeda, kedewasaan kami berbeda, cara kami memandang kehidupan pun berbeda. Apalagi aku tumbuh dengan teman-teman kuliah yang usianya setahun dibawahku. Jadi ketika teman-teman SMA ku udah pada ribut tak kunjung dilamar oleh pacar mereka, aku masih berkutat dengan kuliah yang aku jalani dan menikmati masa-masa pacaran dengan si My Man.
“Lo ga di Lampung Yu. Lo ga ada diantara anak-anak. Lo ga ngerasain gimana tiap bulan lo dapet undangan nikah dari temen SMP lo, SMA lo, SD lo.” Omel Tanti ketika aku tanya saat dia mencari souvenir untuk pernikahannya.
Ok! Dia benar. Ketika teman-teman SMA sudah pada kondangan, aku disini yang ada hanya menemani My Man kondangan ke teman-teman perempuannya yang naik pelaminan. Ketika teman-teman SMA aku sudah mulai hang out dengan pacar dan keluarga pacar, aku masih haha hihi di tempat hang out sama sahabatku disini. Tapi kalau dibilang mereka semua selangkah di depanku, hmmmm…. Bisa iya bisa ga yaaaa.
Kembali mengobrol dengan teman-teman remaja memberikan pandangan yang lain padaku. Ketika beberapa bulan yang lalu berkunjung kesana untuk kondangan tempat Tanti, obrolan dengan mereka ini memberikan sesuatu yang berbeda seperti apa yang aku dapat dengan teman-temanku di Jakarta ini. Tapi walaupun begitu, aku masih saja memandang bocah-bocah SMA ini sebagai anak kecil yg “ko udah mau nikah”…. Memang ya, saling mengenal sejak remaja membuat kita lupa, bahwa kita yang sekarang bukan kita yang dulu ketika berseragam putih abu-abu.
Posisi saya sekarang berada dalam pengantar teman-teman saya menuju gerbang tanggung jawab yang sudah menanti dia karena sebaris kalimat akad. Ga kebayang, hanya karena sebaris kalimat akad, besoknya kita harus mikirin suami, ibu mertua, bapak mertua, orang tua sendiri, mau punya anak, nabung buat beli rumah, investasi jangka panjang, melayani suami, ketakutan akan perselingkuhan, ketakutan campur tangan mertua… banyak kan?!?!?!
Ya itulah ya hidup. Apalagi di usia 20-an ini, otak dibagi-bagi. Karier, uang, kehidupan, cinta dan lainnya. Semua ada di tangan kita, bukan orang tua ataupun teman. Kita yang menentukan apa yang kita jalani. Kita yang tahu apakah kita sudah cukup siap atau belum. Hanya kita yang bisa memastikan apakah kita bahagia atau tidak. Hanya kita! Jadi buatlah keputusan, jika itu salah, kamu bisa memperbaikinya, jika tidak bisa, ikhlaskan, mulailah yang baru, dan buat awal baru dengan akhir yang kamu tahu pasti akan bahagia.
Hidup itu berubah; berubah itu menjadi dewasa; menjadi dewasa itu terus menerus menciptakan diri sendiri tanpa henti.
Teman SMP punya anak, temen genk SMA baru aja hamil, yang lain mau nikah minggu depan, yang lain lagi baru aja melahirkan. What a years!!!
Tahun ini benar-benar penuh dengan perubahan. Perubahan karena memang begitu adanya. Berubah status, berubah impian, berubah karier, sampai berubah penampilan, atau mungkin berubah menjadi single di umur sekarang.
Para sahabat itu sudah menemukan kehidupannya yang lain, sisanya tinggal menunggu dilamar sama siapa, lucu! Tahun ini saya ditinggal nikah oleh tiga sahabat saya. Putri yang menikah Febuari lalu, dan dalam waktu setahun 2 kali berubah status, menjadi istri lalu menjadi ibu, Tanti yang menikah April lalu dan sekarang sedang hamil dua bulan, lalu Lisha yang akan menikah minggu depan dengan pacarnya yang kuancam untuk segera menikahi sahabatku yang sudah 7 tahun ia pacari. What a life kan?!
Ironisnya, ketika sahabat-sahabat sudah berani memutuskan untuk menjalani tanggung jawab yang begitu besar, aku masih berkutat soal kegagalan percintaan kemarin. Iya sekarang sudah memulai kembali, tapi hubungan ini seperti memulai dari awal, jadi tidak ingin terlalu banyak ekspetasi walaupun orientasi hubungan ini katanya berbeda dari yang dulu.
Belum lagi selesai memikirkan para sahabat yang berubah status ini, kemarin baru saja mendengar kabar sahabat pacar yang juga naik pelaminan. Ohhhh tahun berapa ini, berapa umur kita sekarang?! Itu yang terlintas di pikiranku ketika menerima semua kabar ini.
Ok! Gw dan teman genk SMA memang punya lingkungan yang berbeda. Kepindahan gw ke kota Jakarta ketika lulus SMA membuat gw beranjak dewasa jauh dari mereka. Lingkungan kami berbeda, kedewasaan kami berbeda, cara kami memandang kehidupan pun berbeda. Apalagi aku tumbuh dengan teman-teman kuliah yang usianya setahun dibawahku. Jadi ketika teman-teman SMA ku udah pada ribut tak kunjung dilamar oleh pacar mereka, aku masih berkutat dengan kuliah yang aku jalani dan menikmati masa-masa pacaran dengan si My Man.
“Lo ga di Lampung Yu. Lo ga ada diantara anak-anak. Lo ga ngerasain gimana tiap bulan lo dapet undangan nikah dari temen SMP lo, SMA lo, SD lo.” Omel Tanti ketika aku tanya saat dia mencari souvenir untuk pernikahannya.
Ok! Dia benar. Ketika teman-teman SMA sudah pada kondangan, aku disini yang ada hanya menemani My Man kondangan ke teman-teman perempuannya yang naik pelaminan. Ketika teman-teman SMA aku sudah mulai hang out dengan pacar dan keluarga pacar, aku masih haha hihi di tempat hang out sama sahabatku disini. Tapi kalau dibilang mereka semua selangkah di depanku, hmmmm…. Bisa iya bisa ga yaaaa.
Kembali mengobrol dengan teman-teman remaja memberikan pandangan yang lain padaku. Ketika beberapa bulan yang lalu berkunjung kesana untuk kondangan tempat Tanti, obrolan dengan mereka ini memberikan sesuatu yang berbeda seperti apa yang aku dapat dengan teman-temanku di Jakarta ini. Tapi walaupun begitu, aku masih saja memandang bocah-bocah SMA ini sebagai anak kecil yg “ko udah mau nikah”…. Memang ya, saling mengenal sejak remaja membuat kita lupa, bahwa kita yang sekarang bukan kita yang dulu ketika berseragam putih abu-abu.
Posisi saya sekarang berada dalam pengantar teman-teman saya menuju gerbang tanggung jawab yang sudah menanti dia karena sebaris kalimat akad. Ga kebayang, hanya karena sebaris kalimat akad, besoknya kita harus mikirin suami, ibu mertua, bapak mertua, orang tua sendiri, mau punya anak, nabung buat beli rumah, investasi jangka panjang, melayani suami, ketakutan akan perselingkuhan, ketakutan campur tangan mertua… banyak kan?!?!?!
Ya itulah ya hidup. Apalagi di usia 20-an ini, otak dibagi-bagi. Karier, uang, kehidupan, cinta dan lainnya. Semua ada di tangan kita, bukan orang tua ataupun teman. Kita yang menentukan apa yang kita jalani. Kita yang tahu apakah kita sudah cukup siap atau belum. Hanya kita yang bisa memastikan apakah kita bahagia atau tidak. Hanya kita! Jadi buatlah keputusan, jika itu salah, kamu bisa memperbaikinya, jika tidak bisa, ikhlaskan, mulailah yang baru, dan buat awal baru dengan akhir yang kamu tahu pasti akan bahagia.
Hidup itu berubah; berubah itu menjadi dewasa; menjadi dewasa itu terus menerus menciptakan diri sendiri tanpa henti.
Kamis, 22 November 2012
Memory Majalah Dinding
Ceritanya abis iseng nonton film lama yang ga ada matinya, Ada Apa Dengan Cinta. Abis nonton film ini, bukan ingat sosok Rangga yang sangat adorable di tahun 2002-an dimana seketika wanita dan gadis mencari sosok pendiam, dingin, suka puisi dan gentleman just like Rangga yang diperankan sama si aktor kece nan tampan, Nicholas Saputra. Gw pengagum berat dia, tapi berkat gossip tak sedap dari si gorilla Rezi temen gw, jadi agak ngedrop kalo liat Nicholas.
Yang bikin mau nulis ini bukan soal sosok Nicholas saputra atau Rangga yang bisa buat leleh kaum wanita dan siapa pun yang nonton film itu. Tapi nonton film ini gw jadi inget, gimana film AADC membuat ekskul MADING (Majalah Dinding) jadi sebuah ekskul yang beken pada saat itu. Ga tau ya kalo sekarang. Masih beken kah? Atau sudah berkembang jadi majalah sekolah yang memang secara fisik seperti majalah?
Waktu SD, sekolah gw termasuk sekolah yang concern terhadap majalah dinding sekolah. Tapi seinget gw dulu, kita adanya majalah dinding kelas. Jadi potongan-potongan artikel ini kita pajang di dinding kelas, bukan dinding sekolah yang mana lebih umum. Tapi tetep mading ini bisa dibaca sama semua penduduk sekolah, semua anak boleh baca dan masuk ke kelas kita. Bahkan ya, mading waktu SD ini lebih niat dan lebih happening, karena kita ngadain kuis dan hadiah, ya walaupun hadiahnya cuma kotak pensil atau peralatan sekolah.
Di SD ini kelompok MADING dibagi berdasarkan piket kelas. Jadi setiap minggu kita wajib majang mading di depan kelas. Pada waktu SD sih gw pribadi mikirnya ini tugas have fun yahhh… dan ga kepikiran juga nambah nilai atau ga, tapi kayaknya sih ga ya. Tapi pas dipikir lagi sekarang, kegiatan ini ternyata bagus, melatih kerja sama tim, kreatifitas anak-anak, sampai gimana membuat sebuah esay walaupun dulu banyak nyadur dari majalah anak-anak. Tapi intinya, mading itu bikin anak-anak mau ga mau harus baca kan?!
Ketika bagian kelompok gw dapet tugas buat mading, ini bagi gw sesuatu hal yang menyenangkan. Bisa dipastikan ya waktu gw SD, belum ada film AADC, jadi gw emang suka, bukan karena film lohh ya… :D Jadi waktu itu gw dan teman-teman memutuskan mau pake karton warna apa, artikel apa yang mau dimasukkan, kuis teka teki nya apa, hadiah apa yang kita sediakan, dan banyak lagi. Dan ini benar-benar menyenangkan. Tapi detailnya gimana ya gw juga udah lupa yaaa….
Di SMP, di sekolah gw, mading bukan sebuah ekskul, dan juga entah deh sistemnya untuk bisa memproduksi mading ini gimana. Di sini ada papan-papan mading, malah seinget gw sih lebih dari satu yaaa… emmm di berbagai sudut ada. Ditambah di setiap kelas disediain satu papan deket pintu masuk yang memang, kata Pak Kepala Sekolah, disediakan untuk mading kelas. Dan sebenarnya itu bagus banget. Tapi sayangnya, papan-papan ini kosong melompong, kalaupun ada yang ditempel itu hanya sekedar pengumuman sebuah ekskul yang ngadain pertemuan atau buka pendaftaran.
Namun, tiba-tiba saja papan-papan mading sekolah ini penuh sama tempelan-tempelan artikel warna-warni. Ceritanya waktu itu AADC lagi nongkrong di bioskop, dan antriannya ngalahin antrian sedekah sembako. Ga salah lagi, ini pasti kerjaan sekelompok anak yang pengen jadi Cinta and the genk di AADC tebak gw dan teman-teman segenk :D. Langsung aja gossip si genk AADC wanna be ini sampai di telinga gw. Gw dan dua temen gw waktu itu cuma senyum tipis nan sinis. Gw ga bisa berkomentar banyak, karena di dalam AADC wanna be genk ini ada temen SD gw yang masih baik sama gw, dan gw tahu kemampuan dia soal hal-hal begini.
Memang sebelumnya kepala sekolah gw duah nyiapin papan tulis yang memang tujuannya buat mading. Cuma emang pada waktu itu anak-anaknya ga interest, jadinya ya itu papan kosong melompong. Tapi soal kelanjutan madding sekolah yang dibina sama Genk AADC itu gw liat ga berjalan dengan baik, ya soalnya cuma bertahan beberapa bulan. Entah karena ga popular, atau emang dari lima anak itu yang bisa kerja cuma beberapa orang, yang lainnya cuma numpang mau ngikutin cerita film di bioskop.
Naik ke kelas tiga, baru deh kelas gw yang katanya sih kelas unggulan punya kesadaran untuk ngisi itu papan kosong yang udah ada dari setahun yang lalu. Dan ada beberapa pecahan genk AADC masuk juga ke kelas ini, termasuk temen SD gw yang sekarang malah jadi sahabat gw. Kita sama-sama gantian isi mading. Mulai dari salam-salam ala anak 90-an, sampe ramalan bintang yang ga pernah absen. Memang ga semua isinya asli buah karya anak kelas, malah ada artikel dari majalah yang langsung aja gitu ditempel. Coba aja sekarang, gw bisa kasih ide itu papan di jadiin dinding curhat aja yak.. lucu kali ya… hahahaha LOL!
Namun lepas dari itu semua, gw jadi sadar, mungkin majalah-majalah dinding ini yang mengasah gw dalam dunia tulis menulis. Bahwa kenapa ada majalah dinding karena memang tulis menulis sangat baik buat anak-anak. Bagaimana anak belajar untuk menginformasikan sesuatu ke khalayak banyak, walaupun dia sendiri dapet dari majalah. Tapi intinya, bagaimana kreatifitas anak-anak terasah untuk membuat sebuah kreasi informasi di papan kecil namun berarti ini.
Rabu, 14 November 2012
Buah Impian
Ketika diri ini belajar untuk menerima dan menjalani apa yang sudah diputuskan, dan mencoba menapaki langkah-langkah yang membawanya kepada yang terbaik, dia muncul kembali, dengan membawa buah-buah impian yang kemarin diinginkan.
Saya tidak tahu apakah buah itu yang selama ini saya inginkan. Saya juga tidak tahu apakah buah itu sudah matang dan manis, atau masih asam dan pahit karena dipetik terlalu awal. Apakah ini memang adanya atau hanya karena si pemetik ingin membuktikan bahwa dirinya bisa mendapatkan buah yang saya inginkan. Sampai mungkin dia lupa, buah yang asam dan pahit tidak akan menjadi manis pada akhirnya, tetapi hanya diecap dan dibuang, dan butuh waktu yang lama lagi untuk menghilangkan rasa asam yang menusuk itu.
Selasa, 30 Oktober 2012
Saya Bukan Penganut Feminisme
Long weekend kemarin benar-benar full of story. Bukan drama yang seperti biasanya, tapi lebih banyak kesimpulan-kesimpulan dari perubahan yang sedang terjadi. Obrolan-obrolan yang semakin membuka pikiran dan kesadaran akan pelajaran yang sudah dipetik sebenarnya. Masalahnya apakah kita sudah tahu point-point pelajaran apa yang sudah kita pelajari.
Dimulai dari Idul Adha yang kali ini berbeda dari dua tahun sebelumnya. Dua tahun dulu, saya lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan keluarga dan My Man dulu. Tapi sekarang lebih memilih keluar seharian hang out bersama sahabat untuk mencari sepatu cantik yang murah. Tapi ga dapet sepatunya... Susahnya mencari sepatu yaaa...
Ketika di hari Jumat berdiskusi dengan si Ndut a.k.a Ayu Devtiani dan Rezi, Sabtu-nya saya mengobrol cukup panjang dengan si Mama. Awalnya sih seperti biasa obrolan-obrolan ringan seputar kerjaan dan kejadian sehari-hari, sampai dia menyinggung soal relationship dan berakhir dengan obrolan rumah tangga dan peran wanita.
Selama ini saya yakin, Mama memahami bahwa saya memiliki pemikiran yang cukup modern dibanding dirinya dalam memandang peran perempuan, peran lelaki seharusnya di dalam rumah tangga. Obrolan seperti ini sudah sering saya bicarakan dengan Mama. Kami memang sering mengobrol, di waktu-waktu luang kami, kadang kami bicarakan hal-hal seputar perempuan. Bagaimana ia sampai pada saat ini, ketika ia muda, pemikiran aku tentang pria idaman dan tentang pelajaran-pelajaran hidup sekitar yang baik untuk saya pelajari.
Dalam setiap obrolan kami, saya akhirnya menyadari, Mama selalu menyelipkan pesan-pesan bahwa 'sudah dari sananya, laki-laki lahir untuk dilayani.' Dalam setiap obrolan kami, saya selalu menjelaskan pandangan saya tentang pendamping idaman, dimana menurut saya sudah seharusnya pasangan kita nanti mendukung segala apapun yang kita kerjakan. Bahwa namanya sebuah hubungan itu sebaiknya diisi dengan 'saling' termasuk saling melayani. Mama, si orang tua jaman dulu berkomentar sederhana, "tapi, kalau kamu melayani suamimu dengan baik, dia ga punya alesan untuk selingkuh."
Beliau selalu mendukung saya untuk mandiri dan memiliki karier yang bisa membantu suami. Tapi di sisi lain, dia selalu mengingatkan saya bahwa melayani suami juga akan diganjar dengan pahala yang besar. Dan sebenarnya, Mama tidak perlu khawatir akan itu, dalam dirinya menurut saya, dia sudah memberi contoh bagaimana melayani suami. Namun, mungkin menurutnya, mengingatkan anaknya yang sedang beranjak dewasa dan tua juga termasuk kewajibannya. Dan saya lihat, dia sedikit khawatir dengan pola pikir saya soal kesetaraan perempuan dan laki-laki.
Paling tidak sebagai orang tua, dia merasa wajib untuk memberi nasihat-nasihat tentang perempuan ke anak perempuannya. Karena, dia tidak mendapatkan hal itu dari si Andung, nenek saya. Orang jaman dulu kan begitu, lebih mandiri dari anak-anak jaman sekarang, menikah, keluar rumah, mandiri membangun rumah tangganya. Begitu juga mama. Dia seperti sekarang, baru saya tahu, dia banyak didampingi oleh majalah-majalah wanita yang dia baca pada waktu itu, dia menyebutkan dulu dia langganan Femina, Dewi, dan Kartini. Menurutnya, sebagai istri baru dia harus punya pengetahuan-pengetahuan tentang rumah tangga seperti seks, bagaimana melayani suami, sampai resep masakan. Semua dia pelajari dari majalah.
Lucunya, kami sempat beradu argumen tentang selingkuh. Mama termasuk orang yang setuju kalau laki-laki selingkuh itu wajar, tapi saya tidak. Kenapa semua orang memaklumi ketika pria selingkuh, dan menghujat ketika perempuan selingkuh. Menurut Mama, laki-laki dan perempuan memiliki nilai seperti sekarang itu ya karena pemahaman yang seperti itu terbentuk dari dulu, susah untuk merubah. Mungkin semacam stereotipe kali yaaa... Akhirnya, sama-sama capai berargumentasi, saya hanya tersenyum menyimak apa yang mama sampaikan pada saya.
Saya bukan penganut feminisme, tapi saya setuju dengan beberapa faham feminisme. Mungkin dari segala apa yang saya pikirkan, saya seperti sosok yang meagung-agungkan feminisme, padahal saya tidak. Saya sadar perempuan tidak bisa tanpa laki-laki, dan laki-laki lebih tidak bisa tanpa perempuan. Saya hanya ingin antar gender itu saling menghargai, tidak menilai berdasarkan gender. Karena faham feminisme murni menurut saya cukup mengerikan. Dan membahas sedikit soal melayani suami, menurut saya pribadi, sebuah kesenangan dan kebahagiaan bagi seorang istri untuk dapat memenuhi segala apa yang suaminya inginkan. Itu bukan kewajiban, tapi itu sebuah kesenangan natural yang datang dari hati, bukan sebuah paksaan, NATURAL. Ya semoga sih laki-laki memiliki pemikiran yang sama yaaa....
Intinya, kita punya pengetahuan, kita punya agama, dan kita punya budaya. Berlakulah sesuai dengan nilai-nilai yang kita percaya. Seperti kata pendiri Femina, mungkin banyak majalah asing dari luar, tapi kita punya sesuatu yang spesial, yaitu kita punya budaya Indonesia untuk perempuan Indonesia. Ga ada nyambungnya sih, tapi dari acara Femina tadi, saya menyukai bagian pidato yang itu.
Dimulai dari Idul Adha yang kali ini berbeda dari dua tahun sebelumnya. Dua tahun dulu, saya lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan keluarga dan My Man dulu. Tapi sekarang lebih memilih keluar seharian hang out bersama sahabat untuk mencari sepatu cantik yang murah. Tapi ga dapet sepatunya... Susahnya mencari sepatu yaaa...
Ketika di hari Jumat berdiskusi dengan si Ndut a.k.a Ayu Devtiani dan Rezi, Sabtu-nya saya mengobrol cukup panjang dengan si Mama. Awalnya sih seperti biasa obrolan-obrolan ringan seputar kerjaan dan kejadian sehari-hari, sampai dia menyinggung soal relationship dan berakhir dengan obrolan rumah tangga dan peran wanita.
Selama ini saya yakin, Mama memahami bahwa saya memiliki pemikiran yang cukup modern dibanding dirinya dalam memandang peran perempuan, peran lelaki seharusnya di dalam rumah tangga. Obrolan seperti ini sudah sering saya bicarakan dengan Mama. Kami memang sering mengobrol, di waktu-waktu luang kami, kadang kami bicarakan hal-hal seputar perempuan. Bagaimana ia sampai pada saat ini, ketika ia muda, pemikiran aku tentang pria idaman dan tentang pelajaran-pelajaran hidup sekitar yang baik untuk saya pelajari.
Dalam setiap obrolan kami, saya akhirnya menyadari, Mama selalu menyelipkan pesan-pesan bahwa 'sudah dari sananya, laki-laki lahir untuk dilayani.' Dalam setiap obrolan kami, saya selalu menjelaskan pandangan saya tentang pendamping idaman, dimana menurut saya sudah seharusnya pasangan kita nanti mendukung segala apapun yang kita kerjakan. Bahwa namanya sebuah hubungan itu sebaiknya diisi dengan 'saling' termasuk saling melayani. Mama, si orang tua jaman dulu berkomentar sederhana, "tapi, kalau kamu melayani suamimu dengan baik, dia ga punya alesan untuk selingkuh."
Beliau selalu mendukung saya untuk mandiri dan memiliki karier yang bisa membantu suami. Tapi di sisi lain, dia selalu mengingatkan saya bahwa melayani suami juga akan diganjar dengan pahala yang besar. Dan sebenarnya, Mama tidak perlu khawatir akan itu, dalam dirinya menurut saya, dia sudah memberi contoh bagaimana melayani suami. Namun, mungkin menurutnya, mengingatkan anaknya yang sedang beranjak dewasa dan tua juga termasuk kewajibannya. Dan saya lihat, dia sedikit khawatir dengan pola pikir saya soal kesetaraan perempuan dan laki-laki.
Paling tidak sebagai orang tua, dia merasa wajib untuk memberi nasihat-nasihat tentang perempuan ke anak perempuannya. Karena, dia tidak mendapatkan hal itu dari si Andung, nenek saya. Orang jaman dulu kan begitu, lebih mandiri dari anak-anak jaman sekarang, menikah, keluar rumah, mandiri membangun rumah tangganya. Begitu juga mama. Dia seperti sekarang, baru saya tahu, dia banyak didampingi oleh majalah-majalah wanita yang dia baca pada waktu itu, dia menyebutkan dulu dia langganan Femina, Dewi, dan Kartini. Menurutnya, sebagai istri baru dia harus punya pengetahuan-pengetahuan tentang rumah tangga seperti seks, bagaimana melayani suami, sampai resep masakan. Semua dia pelajari dari majalah.
Lucunya, kami sempat beradu argumen tentang selingkuh. Mama termasuk orang yang setuju kalau laki-laki selingkuh itu wajar, tapi saya tidak. Kenapa semua orang memaklumi ketika pria selingkuh, dan menghujat ketika perempuan selingkuh. Menurut Mama, laki-laki dan perempuan memiliki nilai seperti sekarang itu ya karena pemahaman yang seperti itu terbentuk dari dulu, susah untuk merubah. Mungkin semacam stereotipe kali yaaa... Akhirnya, sama-sama capai berargumentasi, saya hanya tersenyum menyimak apa yang mama sampaikan pada saya.
Saya bukan penganut feminisme, tapi saya setuju dengan beberapa faham feminisme. Mungkin dari segala apa yang saya pikirkan, saya seperti sosok yang meagung-agungkan feminisme, padahal saya tidak. Saya sadar perempuan tidak bisa tanpa laki-laki, dan laki-laki lebih tidak bisa tanpa perempuan. Saya hanya ingin antar gender itu saling menghargai, tidak menilai berdasarkan gender. Karena faham feminisme murni menurut saya cukup mengerikan. Dan membahas sedikit soal melayani suami, menurut saya pribadi, sebuah kesenangan dan kebahagiaan bagi seorang istri untuk dapat memenuhi segala apa yang suaminya inginkan. Itu bukan kewajiban, tapi itu sebuah kesenangan natural yang datang dari hati, bukan sebuah paksaan, NATURAL. Ya semoga sih laki-laki memiliki pemikiran yang sama yaaa....
Intinya, kita punya pengetahuan, kita punya agama, dan kita punya budaya. Berlakulah sesuai dengan nilai-nilai yang kita percaya. Seperti kata pendiri Femina, mungkin banyak majalah asing dari luar, tapi kita punya sesuatu yang spesial, yaitu kita punya budaya Indonesia untuk perempuan Indonesia. Ga ada nyambungnya sih, tapi dari acara Femina tadi, saya menyukai bagian pidato yang itu.
Rabu, 24 Oktober 2012
Not Just Being Rich
Ini merupakan sebagian cerita mengenai pengalaman dalam proses pembuatan skripsi saya kemarin. Saya baru lulus kira-kira 3 bulan yang lalu.. Selain nilai yang saya dapatkan, saya sangat senang dalam proses pembuatannya, karena bisa berdiskusi dengan orang-orang yang bisa membuka pikiran saya tentang wanita.
Saya mengangkat judul soal perempuan yang terlibat kasus korupsi. Media yang saya teliti adalah Media Indonesia sebagai media mainstream dan Femina sebagai media khusus perempuan yang sudah 40 tahun menjadi majalah perempuan Indonesia.
Untuk keperluan skripsi saya harus mewawancarai para pembuat artikel atau berita-berita tersebut. Bapak Gaudensius dari Media Indonesia dan Angela H Wahyuningsih dari Femina. Dan saya benar-benar senang bisa berdiskusi dengan mereka. Bukan saja soal skripsi tapi lebih dari itu, membuka pikiran saya.
Sebenarnya yang lebih mendalam adalah ketika saya mewawancarai Mba Atiek atau Angela H Wahyuningsih. Sebagai redaktur senior di Femina, artikel-artikel yang dia buat bisa dikatakan artikel-artikel berat dan berisi. Kebetulan sekali artikel di Femina mengenai Perempuan yang terlibat dalam korupsi dia yang menulisnya.
Saya bertanya banyak padanya soal wanita, wanita bekerja, dan wanita yang melakukan tindak korupsi. Mba Atik sebagai wanita, tidak begitu saja membela kaumnya, namun menurutnya sebagai wanita kita sudah seharusnya lebih cerdas. Tidak hanya cerdas sebagai individu yang berkarier, tapi cerdas juga untuk memikirkan karier, keluarga dan dirinya sendiri.
Dalam sidang skripsi, pertanyaan yang diajukan dosen pada saya adalah, nilai apa yang saya ambil dari penelitian yang saya dapatkan. Dengan yakin saya jawab, sebagai perempuan sudah seharusnya cerdas untuk bersikap dan berpikir. Bahwa apa yang mereka lakukan bukan hanya untuk mereka sendiri, tapi ada keluarga, anak-anak, dan diri mereka sebagai perempuan yang harus dia jaga martabatnya.
Perempuan diangggap sebagai tiang dalam mendidik keluarga, di Indonesia stereotipe itu terus berkembang, bahwa mendidik anak adalah tanggung jawan perempuan, bapak hanya mencari nafkah. Budaya ini yang menurut saya tidak baik bagi pertumbuhan anak-anak. Karena menurut hasil psikologi, Ayah justru memiliki pengaruh yang kuat dalam perkembangan anak. Jadi soal urusan mengurus anak menurut saya ya itu team work istri dan suami. So what dengan budaya, kita hidup hari ini, bukan dulu.
Dalam tulisan saya sebelumnya saya mengatakan perempuan harus bekerja apa yang mereka senangi. Saya jadi teringat cerita mba Atiek tentang karier wanita yang stuck di tingkat manajer karena alasannya karena keluarga. Menurutnya, banyak perempuan yang resign dari pekerjaannya dengan alasan ingin mendampingi putra putri mereka meraih masa depan. Dan yang paling saya ingat tanggapan dari mba Atiek adalah, "memikirkan masa depan anak, terus bagaimana dengan masa depan kamu sendiri?"
Saya tergelitik tentang hal ini. Perempuan selalu dihadapkan dengan dilemma sepanjang hidupnya. Pilihan-pilihan sulit tentang perannya dan kewajibannya.Saya mungkin memiliki pemikiran yang sama seperti perempuan pada umumnya yang akan melepas jabatan untuk kepentingan mendampingi anak. Tetapi masukan dari Mba Atiek ya sekali lagi kita harus cerdas sebagai wanita.
Wanita terkadang dibutakan untuk hal-hal yang mengatasnamakan anak. Mereka akan melakukan apa saja untuk kepentingan anak mereka. Pendidikan yang mahal contohnya. Padahal tiap anak berbeda cara mendidiknya. Tidak bisa disama ratakan karena anak-anak memiliki karakter yang berbeda-beda.
Ahhh panjang sekali obrolan tentang perempuan. Dan ini saya jadikan pegangan untuk ke depannya pada diri saya. Saya tetap masih bingung jika dihadapkan tentang pilihan karier dan keluarga. Namun saya yakin, perempuan bisa sukses jika mendapatkan pengertian pasangannya. Itu saja.
Saya mengangkat judul soal perempuan yang terlibat kasus korupsi. Media yang saya teliti adalah Media Indonesia sebagai media mainstream dan Femina sebagai media khusus perempuan yang sudah 40 tahun menjadi majalah perempuan Indonesia.
Untuk keperluan skripsi saya harus mewawancarai para pembuat artikel atau berita-berita tersebut. Bapak Gaudensius dari Media Indonesia dan Angela H Wahyuningsih dari Femina. Dan saya benar-benar senang bisa berdiskusi dengan mereka. Bukan saja soal skripsi tapi lebih dari itu, membuka pikiran saya.
Sebenarnya yang lebih mendalam adalah ketika saya mewawancarai Mba Atiek atau Angela H Wahyuningsih. Sebagai redaktur senior di Femina, artikel-artikel yang dia buat bisa dikatakan artikel-artikel berat dan berisi. Kebetulan sekali artikel di Femina mengenai Perempuan yang terlibat dalam korupsi dia yang menulisnya.
Saya bertanya banyak padanya soal wanita, wanita bekerja, dan wanita yang melakukan tindak korupsi. Mba Atik sebagai wanita, tidak begitu saja membela kaumnya, namun menurutnya sebagai wanita kita sudah seharusnya lebih cerdas. Tidak hanya cerdas sebagai individu yang berkarier, tapi cerdas juga untuk memikirkan karier, keluarga dan dirinya sendiri.
Dalam sidang skripsi, pertanyaan yang diajukan dosen pada saya adalah, nilai apa yang saya ambil dari penelitian yang saya dapatkan. Dengan yakin saya jawab, sebagai perempuan sudah seharusnya cerdas untuk bersikap dan berpikir. Bahwa apa yang mereka lakukan bukan hanya untuk mereka sendiri, tapi ada keluarga, anak-anak, dan diri mereka sebagai perempuan yang harus dia jaga martabatnya.
Perempuan diangggap sebagai tiang dalam mendidik keluarga, di Indonesia stereotipe itu terus berkembang, bahwa mendidik anak adalah tanggung jawan perempuan, bapak hanya mencari nafkah. Budaya ini yang menurut saya tidak baik bagi pertumbuhan anak-anak. Karena menurut hasil psikologi, Ayah justru memiliki pengaruh yang kuat dalam perkembangan anak. Jadi soal urusan mengurus anak menurut saya ya itu team work istri dan suami. So what dengan budaya, kita hidup hari ini, bukan dulu.
Dalam tulisan saya sebelumnya saya mengatakan perempuan harus bekerja apa yang mereka senangi. Saya jadi teringat cerita mba Atiek tentang karier wanita yang stuck di tingkat manajer karena alasannya karena keluarga. Menurutnya, banyak perempuan yang resign dari pekerjaannya dengan alasan ingin mendampingi putra putri mereka meraih masa depan. Dan yang paling saya ingat tanggapan dari mba Atiek adalah, "memikirkan masa depan anak, terus bagaimana dengan masa depan kamu sendiri?"
Saya tergelitik tentang hal ini. Perempuan selalu dihadapkan dengan dilemma sepanjang hidupnya. Pilihan-pilihan sulit tentang perannya dan kewajibannya.Saya mungkin memiliki pemikiran yang sama seperti perempuan pada umumnya yang akan melepas jabatan untuk kepentingan mendampingi anak. Tetapi masukan dari Mba Atiek ya sekali lagi kita harus cerdas sebagai wanita.
Wanita terkadang dibutakan untuk hal-hal yang mengatasnamakan anak. Mereka akan melakukan apa saja untuk kepentingan anak mereka. Pendidikan yang mahal contohnya. Padahal tiap anak berbeda cara mendidiknya. Tidak bisa disama ratakan karena anak-anak memiliki karakter yang berbeda-beda.
Ahhh panjang sekali obrolan tentang perempuan. Dan ini saya jadikan pegangan untuk ke depannya pada diri saya. Saya tetap masih bingung jika dihadapkan tentang pilihan karier dan keluarga. Namun saya yakin, perempuan bisa sukses jika mendapatkan pengertian pasangannya. Itu saja.
Jumat, 05 Oktober 2012
Hei Woman, Do What You Love To Do!
Aliran konservatif mungkin menganggap kalau wanita yang bekerja di luar rumah itu egois, tidak mementingkan keluarga, ambisius, atau sebagainya. Tapi tidak menurut saya. Kami butuh uang, iya benar. Kami butuh aktualisasi, iya itu benar sekali. Namun, menurut saya, yang lebih penting dari itu semua adalah, melakukan hal yang kita senangi.
Di masa umur 20-an mungkin kita bekerja semata uang, nafsu untuk melimpahi diri sendiri dengan barang-barang yang sudah kita impikan. Menikmati gaya hidup yang sebelumnya hanya kita lihat di majalah-majalah gaya hidup.
Saya adalah pemikir yang complicated, tidak memiliki ambisi berlebih. Kenapa saya bilang saya pemikir yang complicated? Hari ini saya bisa berpikir A, tapi bisa jadi dari semua hal-hal yang saya dengar dan saya alami, penilaian saya berubah menjadi B.
Malam kemarin, dalam perjalanan pulang saya dari kantor, tiba-tiba terpikir tentang wanita bekerja. Ini berawal dari pengalaman interview hari senin sebelumnya. Salahnya saya, 2x saya interview tanpa persiapan apa pun. Entah karena kesibukan di kantor, atau memang ketengilan yang ga jelas. Yang pasti di interview sebelumnya saya gagal untuk menjadi copywriter di salah satu majalah kebanggan teman saya.
Ketika diwawancara ole pihak kantor, dia menyuruh saya menceritakan diri saya dan hal yang menurut saya menarik. Dan seketika itu saya sadar, tidak ada yang menarik dari diri saya. Atau mungkin saya kebingungan, entahlah. Nah pertanyaan yang lain adalah, si bapak itu menanyakan cita-cita saya. Saya terdiam bingung, bukan bingung sama pertanyaannya, tetapi bingung jawaban yang harus jawab. Si bapak itu menambahkan “cita-cita kamu. Yang kalau tidak kesampean kamu akan nangis.” Begitu katanya. Saya tidak akan menagis jika tidak menjadi jurnalis handal, saya juga tidak akan menagis jika saya tidak bisa keliling dunia. Lalu, dengan polos saya menjawab “jadi ibu”. Dan senyum pun terukir di wajah si bapak itu. Saya nilai sih senyum kaget, meledek, dan terharu mungkin. “mulia sekali cita-citanya. Susah loh ya jadi ibu.” Begitu katanya. Saya pun hanya tersenyum, merasa lagi ikut kontes kecantikan dengan jawaban seperti itu.
Sekeluarnya dari gedung, saya hanya ketawa sendiri mengingat jawaban polos saya. Hanya saya pikir ini mungkin efek si baby alena yang lagi ada di rumah, my sister’s daughter. Hari-hari saya sedang dipenuhi olehnya. Bisa jadi ini salah satu faktor kenapa saya bisa jawab itu. Dan ketika saya pikir kembali, apa hal di dunia ini yang saya tangisi ketika tidak mendapatkannya, ya menurut saya, yang pantas ditangisi adalah tidak mendapatkan anak. Saya merasa tidak menjadi jurnalis handal bukan sesuatu yang harus saya tangisi. Keliling dunia? Masih banyak hal yang pantas saya tangisi daripada hanya sekedar tidak bisa keliling dunia.
Saya orang yang setengah setengah. Saya punya sisi konservatif, saya juga punya sisi modern. Mungkin lebih banyak Konservatif ya atau modern saya tidak tahu. Saya sadar, perempuan sudah seharusnya menjadi pendidik di dalam keluarganya. Jadi ketika itu dikalahkan dengan ambisi untuk mencapai karier yang tinggi, saya tidak mendukung. Tetapi ketika pekerjaan yang dijalankan adalah suatu hal yang bisa berjalan seiring keluarga, saya mendukung.
Mencari nafkah adalah kewajiban laki-laki. Saya setuju sama pak dosen mata kuliah perempuan dan pembangunan saya. Tapi dengan begitu bukan berarti perempuan harus diam di rumah menunggu dan mengadah tangan pada suami. Tidak begitu. Bagi saya, seorang ibu hanya bekerja pekerjaan yang ia senangi. Tujuannya bukan semata uang. Tetapi kesenangan dan aktualisasi diri yang ia dapatkan. Ketika penghasilan itu nyatanya bisa membantu penghasilan suami, itu bonus. Tapi ketika pekerjaan itu semata mencari nafkah, uang. dan mengabaikan kewajiban utamanya sebagai ibu, saya tidak setuju.
Ini bukan pembuktian bahwa perempuan juga bisa bekerja seperti pria, menurut saya tidak. Saya tidak berpikir tentang pembuktian kemandirian wanita, karena saya yakin sebenarnya wanita lebih mandiri daripada pria. Tetapi lebih dari itu, ini adalah untuk kecerdasan para wanita. Jadi jika nanti saya sudah menjadi ibu dan pekerjaan saya menyita waktu saya dan sudah menyita kenyamanan saya dan keluarga saya, saya tahu apa yang harus saya lakukan. That’s why so hard to be a woman :D
Saya adalah pemikir yang complicated, tidak memiliki ambisi berlebih. Kenapa saya bilang saya pemikir yang complicated? Hari ini saya bisa berpikir A, tapi bisa jadi dari semua hal-hal yang saya dengar dan saya alami, penilaian saya berubah menjadi B.
Malam kemarin, dalam perjalanan pulang saya dari kantor, tiba-tiba terpikir tentang wanita bekerja. Ini berawal dari pengalaman interview hari senin sebelumnya. Salahnya saya, 2x saya interview tanpa persiapan apa pun. Entah karena kesibukan di kantor, atau memang ketengilan yang ga jelas. Yang pasti di interview sebelumnya saya gagal untuk menjadi copywriter di salah satu majalah kebanggan teman saya.
Ketika diwawancara ole pihak kantor, dia menyuruh saya menceritakan diri saya dan hal yang menurut saya menarik. Dan seketika itu saya sadar, tidak ada yang menarik dari diri saya. Atau mungkin saya kebingungan, entahlah. Nah pertanyaan yang lain adalah, si bapak itu menanyakan cita-cita saya. Saya terdiam bingung, bukan bingung sama pertanyaannya, tetapi bingung jawaban yang harus jawab. Si bapak itu menambahkan “cita-cita kamu. Yang kalau tidak kesampean kamu akan nangis.” Begitu katanya. Saya tidak akan menagis jika tidak menjadi jurnalis handal, saya juga tidak akan menagis jika saya tidak bisa keliling dunia. Lalu, dengan polos saya menjawab “jadi ibu”. Dan senyum pun terukir di wajah si bapak itu. Saya nilai sih senyum kaget, meledek, dan terharu mungkin. “mulia sekali cita-citanya. Susah loh ya jadi ibu.” Begitu katanya. Saya pun hanya tersenyum, merasa lagi ikut kontes kecantikan dengan jawaban seperti itu.
Sekeluarnya dari gedung, saya hanya ketawa sendiri mengingat jawaban polos saya. Hanya saya pikir ini mungkin efek si baby alena yang lagi ada di rumah, my sister’s daughter. Hari-hari saya sedang dipenuhi olehnya. Bisa jadi ini salah satu faktor kenapa saya bisa jawab itu. Dan ketika saya pikir kembali, apa hal di dunia ini yang saya tangisi ketika tidak mendapatkannya, ya menurut saya, yang pantas ditangisi adalah tidak mendapatkan anak. Saya merasa tidak menjadi jurnalis handal bukan sesuatu yang harus saya tangisi. Keliling dunia? Masih banyak hal yang pantas saya tangisi daripada hanya sekedar tidak bisa keliling dunia.
Saya orang yang setengah setengah. Saya punya sisi konservatif, saya juga punya sisi modern. Mungkin lebih banyak Konservatif ya atau modern saya tidak tahu. Saya sadar, perempuan sudah seharusnya menjadi pendidik di dalam keluarganya. Jadi ketika itu dikalahkan dengan ambisi untuk mencapai karier yang tinggi, saya tidak mendukung. Tetapi ketika pekerjaan yang dijalankan adalah suatu hal yang bisa berjalan seiring keluarga, saya mendukung.
Mencari nafkah adalah kewajiban laki-laki. Saya setuju sama pak dosen mata kuliah perempuan dan pembangunan saya. Tapi dengan begitu bukan berarti perempuan harus diam di rumah menunggu dan mengadah tangan pada suami. Tidak begitu. Bagi saya, seorang ibu hanya bekerja pekerjaan yang ia senangi. Tujuannya bukan semata uang. Tetapi kesenangan dan aktualisasi diri yang ia dapatkan. Ketika penghasilan itu nyatanya bisa membantu penghasilan suami, itu bonus. Tapi ketika pekerjaan itu semata mencari nafkah, uang. dan mengabaikan kewajiban utamanya sebagai ibu, saya tidak setuju.
Ini bukan pembuktian bahwa perempuan juga bisa bekerja seperti pria, menurut saya tidak. Saya tidak berpikir tentang pembuktian kemandirian wanita, karena saya yakin sebenarnya wanita lebih mandiri daripada pria. Tetapi lebih dari itu, ini adalah untuk kecerdasan para wanita. Jadi jika nanti saya sudah menjadi ibu dan pekerjaan saya menyita waktu saya dan sudah menyita kenyamanan saya dan keluarga saya, saya tahu apa yang harus saya lakukan. That’s why so hard to be a woman :D
Rabu, 19 September 2012
Pencitraan
Saya sadar dan yakin bahwa semua orang memiliki persepsinya sendiri. Apakah proses komunikasi itu berlangsung baik atau tidak. Namun yang pasti, persepsi inilah yang merupakan bagian dari pencitraan, hasil pencitraan mungkin.
Semua orang menilai saya sebagai sosok yang keras. Entah itu sudah kenal lama atau belum.
Keras ini mungkin tertulis jelas di wajah saya atau bagaimana saya tidak mengerti. Tapi yang pasti saya orang yang puya insting kepada orang-orang yang ada di sekeliling saya. Teman saya, keluarga, pacar mungkin. Inginnya tidak begini, tetapi seringnya apa yang saya pikirkan itulah adanya.
Saya punya pemikiran saya sendiri. Terkadang cara orang menilai apa yang mereka lihat tidak sesuai dengan apa yang mereka tidak tahu. Sekarang masalahnya, saya yang tidak perduli tentang pencitraan, dan saya pikir kebenaran akan terungkap dengan sendirinya, sepertinya kena batunya. After break up sama my man, dan mencoba membicarakan ini baik-baik, saya sadar, sikap keras saya mengenai hal ini dinilai tidak berperasaan. Ingin menyanggah itu semua, tapi apa guna?
Apa ada yang menanyakan hal ini pada saya? Ada yang bertanya sama saya kenapa saya memilih untuk bersikap keras seperti itu? Tidak ada. Kalau sudah begini perlu sekali yang namanya konfirmasi. Pointnya, disini saya malah menjadi pihak yang "menyakiti", nyatanya saya merasa sebagai pihak "tersakiti". Sekarang saya hanya ingin berteriak kepada orang-orang yang menilai saya begitu. Berteriak "Kalian tidak tahu apa yang saya rasa.!!" Seandainya bisa.. :(
Tapi sekarang pun saya tidak tahu harus bagaimana. Bikin press realease? Bikin confrensi pers? Dan membicarakan semua hal yang saya rasa? tentang rahasia-rahasia saya juga? Memang sulit menuntut orang untuk berlaku adil. Semua punya persepsi yang berbeda, semua orang punya cara berpikir yang berbeda, saya tidak mungkin untuk memaksa orang mengerti apa yang saya rasa. Mereka tidak bisa. Mereka tidak mendengar apa yang saya dengar, mereka tidak melihat apa yang saya lihat.
Saya ingin jadi si "annoying:. Ingin sekali, atau ingin sekali menjadi yang menyakiti seperti apa yang mereka bilang. Tapi saya sadar saya tidak punya kemampuan untuk itu. Jadi? Tutup kuping? Membiarkan mereka menjelekkan saya dengan apa yang tidak saya lakukan? Saya hanya harus terus bersyukur...
Keras ini mungkin tertulis jelas di wajah saya atau bagaimana saya tidak mengerti. Tapi yang pasti saya orang yang puya insting kepada orang-orang yang ada di sekeliling saya. Teman saya, keluarga, pacar mungkin. Inginnya tidak begini, tetapi seringnya apa yang saya pikirkan itulah adanya.
Saya punya pemikiran saya sendiri. Terkadang cara orang menilai apa yang mereka lihat tidak sesuai dengan apa yang mereka tidak tahu. Sekarang masalahnya, saya yang tidak perduli tentang pencitraan, dan saya pikir kebenaran akan terungkap dengan sendirinya, sepertinya kena batunya. After break up sama my man, dan mencoba membicarakan ini baik-baik, saya sadar, sikap keras saya mengenai hal ini dinilai tidak berperasaan. Ingin menyanggah itu semua, tapi apa guna?
Apa ada yang menanyakan hal ini pada saya? Ada yang bertanya sama saya kenapa saya memilih untuk bersikap keras seperti itu? Tidak ada. Kalau sudah begini perlu sekali yang namanya konfirmasi. Pointnya, disini saya malah menjadi pihak yang "menyakiti", nyatanya saya merasa sebagai pihak "tersakiti". Sekarang saya hanya ingin berteriak kepada orang-orang yang menilai saya begitu. Berteriak "Kalian tidak tahu apa yang saya rasa.!!" Seandainya bisa.. :(
Tapi sekarang pun saya tidak tahu harus bagaimana. Bikin press realease? Bikin confrensi pers? Dan membicarakan semua hal yang saya rasa? tentang rahasia-rahasia saya juga? Memang sulit menuntut orang untuk berlaku adil. Semua punya persepsi yang berbeda, semua orang punya cara berpikir yang berbeda, saya tidak mungkin untuk memaksa orang mengerti apa yang saya rasa. Mereka tidak bisa. Mereka tidak mendengar apa yang saya dengar, mereka tidak melihat apa yang saya lihat.
Saya ingin jadi si "annoying:. Ingin sekali, atau ingin sekali menjadi yang menyakiti seperti apa yang mereka bilang. Tapi saya sadar saya tidak punya kemampuan untuk itu. Jadi? Tutup kuping? Membiarkan mereka menjelekkan saya dengan apa yang tidak saya lakukan? Saya hanya harus terus bersyukur...
Kamis, 13 September 2012
Letter To Allenna....
Dear Alllenna,
Tante ga sangka, mba tante si Asri itu bisa memproduksi bayi secantik kamu Al. hehehe.. It's really amazing when first i saw you, aku lihat bayi merah di atas perut ibunya, dan mencari-cari puting ibunya.. yaaa...mama mu melakukan inisiasi menyusui dini, apalagi kalau bukan buat kebaikan kamu.
Kehadiran kamu mencerahkan keluarga ini Al, kamu harus tahu itu, senyum cerah di wajah opa, oma, om Aji, dan tante, dan tentu kedua orang tuamu. Semua sibuk ketika kamu hadir, menyiapkan apa yang kamu perlukan, apa yang membuatmu nyaman, dan semuanya.
Satu yang harus kamu tahu Al, tante sangat bersyukur kamu hadir, Tante selalu berterimakasih sama Allah telah memberi kepercayaan kamu pada orang tuamu. Dan tante yakin, begitu pun papa dan mama mu.
Kamu tahu, ketika kamu hadir, tante kehilangan suatu hal yang tante sayangin, tapi tante tidak merasa kesepian, karena tante sadar, tante punya kamu. Kamu memberikan kebahagiaan di tengah kehilangan tante, kamu sinar di kegelapan tante. Karena kamu juga, tante sadar, Allah maha baik sama tante, dia menyadarkan tante, dan memberi cobaan pada tante, tapi karena ada kamu, tante sadar, dia pun memberikan tante kebahagiaan, yaitu kamu. Jadi Allah maha adil buat tante, dan membuat tante selalu bersyukur pada-Nya.
Welcoming Al, Tante sayang kamuuu...:* (ini artinya kiss ya Al) :D
Rabu, 12 September 2012
I've Made My Decision
I have to respect my self...
Itu kalimat yang saya pikirkan ketika saya mendengar jawaban yang tidak ingin saya dengar. Dan hal itulah yang akhirnya saya pertimbangkan ketika mengambil keputusan ini.
Bukan saya yang mengambil keputusan, mungkin saya membantu memberikan pilihan agar tercapai suatu keputusan.
Intinya adalah, it hurts when your relationship is NOTHING for your man. Mungkin terlalu berlebihan, hanya excusenya begini, mungkin ini bukan excuse, tapi ya sudahlan apapun ini disebutnya. Jika memang saya berharga untuk dia, maka dia akan menghargai saya dan waktu yang sudah kita jalani bersama sekian lama.
Saya mencoba sekuat tenaga mengikatkan bahwa ini bukan salah siapa pun, pihak mana pun, ataupun keadaan sekalipun. Ini adalah salah saya dan dia. Kami pikir kami siap, ternyata tidak, kami pikir kami cocok, ternyata tidak. Kami pikir kami kuat, nyatanya pun semu.
Saya mencoba menghargai waktu yang saya jalani, karena saya sadar kata "begitu besar cinta, begitu sempit waktu". Awalnya saya pikir ini semua adalah efek dari pihak-pihak yang tidak mendukung hubungan ini. Namun saya sadar bahwa hubungan ini adalah milik kami, jika memang cinta yang kuat ada di dalamnya, tidak akan ada pihak yang mampu mengganggunya.
Karena itu saya sadar, ini semua adalah kesalahan kami, saya dan pasangan. Bukan pihak-pihak yang tidak mendukung, ataupun keadaaan. Saya percaya, ketika pria sudah menemukan wanita yang dipilihnya, seharusnya dia akan berjuang untuk terus bersama, namun ketika itu semua tidak ia lakukan, jawabannya adalah "dia pikir, kamu tidak cukup baik untuk dia"
Setelah waktu yang hampir 3 tahun kami lewati, dengan kenyataan yang saya dapati seperti itu, jujur, saya sakit, saya merasa dipermainkan oleh orang yang saya percaya adalah laki-laki baik yang pernah saya kenal.
Ketika hubungan ini semakin lama dijalani, ketika saya pikir hubungan ini semakin matang dan mantap, nyatanya yang ada adalah ketidaksiapan dan ketidakyakinan. Kalau sudah begini , lalu apa nilai yang sudah dilewati? Tampaknya kami begitu bahagia selama ini, tampaknya kami begitu percaya selama ini. Saya pikir kita melangkah dengan keyakinan yang sama, tampaknya ada mimpi yang kita susun selama ini. Namun kenyataannya adalah KOSONG.
Cukup mengenaskan ketika mendapati kenyataan bahwa hubungan yang dibina sekian lama sekiranya memiliki tujuan ternyata tidak ada sama sekali. Saya merasa ini bukan orang yang menyatakan cinta pada saya 3 tahun lalu. Bukan dia! Orang yang "nembak" saya dulu tampak sangat dewasa, bijaksana, dan yakin. Namun sekarang, saya harus mendengar ketakutan dan ketidakjelasan, totally different. He's not who is mine.
Saya ingin sekali menyalahkan diri saya, mencari apa kekurangan saya, namun saya sadar, saya harus menghargai diri saya sendiri. Terdengar selfish, tapi tidak! Nyatanya saya lebih berani dari pria yang saya pikir akan menuntun saya ke depannya nanti. Nyatanya dia bahkan tidak tahu harus ambil jalan kanan, kiri, atau lurus dalam perjalanannya. Karenanya, saya memilih jalan saya sendiri, menawarkan padanya, namun dia ketakutan memilih apakah harus berjalan dan melangkah bersama saya.
Saya pun memilih jalan, dan pilihannya saya berjalan sendiri. Saya sadar, nanti, suatu saat dalam perjalanan saya, saya akan berada pada titik terendah hidup saya. Merasa menjadi orang yang paling nelangsa. Namun saya sudah mengambil pilihan, kalau bukan saya yang menghargai diri saya, lalu siapa?
Tentu saya tidak mungkin mengharapkan pria yang bahkan tidak punya tujuan pada saya, untuk menghargai saya. Karena jika memang dia adanya, dengan yakin dia akan menuntun saya kemana pun jalan yang dia yakini baik.
Masa transisi ini sulit. Saya pikir begitu, namun saya harus menghargai orang-orang yang menghargai saya. Teman-teman yang tidak pernah ragu akan diri saya, keluarga yang selalu percaya pada saya.
Sekarang saya sadar, betapa baik orang berkata tentang kita, betapa banyak harta yang kita punya, ketika kita menilai tanpa melihat lebih dekat, apakah bijaksana?? Mungkin orang menilai apa yang mereka lihat, tapi hati tidak bisa dilihat. Lebih bijak dan lebih adil menilai orang, itu pelajarannya. Karena saya sudah tahu rasanya....
Intinya adalah, it hurts when your relationship is NOTHING for your man. Mungkin terlalu berlebihan, hanya excusenya begini, mungkin ini bukan excuse, tapi ya sudahlan apapun ini disebutnya. Jika memang saya berharga untuk dia, maka dia akan menghargai saya dan waktu yang sudah kita jalani bersama sekian lama.
Saya mencoba sekuat tenaga mengikatkan bahwa ini bukan salah siapa pun, pihak mana pun, ataupun keadaan sekalipun. Ini adalah salah saya dan dia. Kami pikir kami siap, ternyata tidak, kami pikir kami cocok, ternyata tidak. Kami pikir kami kuat, nyatanya pun semu.
Saya mencoba menghargai waktu yang saya jalani, karena saya sadar kata "begitu besar cinta, begitu sempit waktu". Awalnya saya pikir ini semua adalah efek dari pihak-pihak yang tidak mendukung hubungan ini. Namun saya sadar bahwa hubungan ini adalah milik kami, jika memang cinta yang kuat ada di dalamnya, tidak akan ada pihak yang mampu mengganggunya.
Karena itu saya sadar, ini semua adalah kesalahan kami, saya dan pasangan. Bukan pihak-pihak yang tidak mendukung, ataupun keadaaan. Saya percaya, ketika pria sudah menemukan wanita yang dipilihnya, seharusnya dia akan berjuang untuk terus bersama, namun ketika itu semua tidak ia lakukan, jawabannya adalah "dia pikir, kamu tidak cukup baik untuk dia"
Setelah waktu yang hampir 3 tahun kami lewati, dengan kenyataan yang saya dapati seperti itu, jujur, saya sakit, saya merasa dipermainkan oleh orang yang saya percaya adalah laki-laki baik yang pernah saya kenal.
Ketika hubungan ini semakin lama dijalani, ketika saya pikir hubungan ini semakin matang dan mantap, nyatanya yang ada adalah ketidaksiapan dan ketidakyakinan. Kalau sudah begini , lalu apa nilai yang sudah dilewati? Tampaknya kami begitu bahagia selama ini, tampaknya kami begitu percaya selama ini. Saya pikir kita melangkah dengan keyakinan yang sama, tampaknya ada mimpi yang kita susun selama ini. Namun kenyataannya adalah KOSONG.
Cukup mengenaskan ketika mendapati kenyataan bahwa hubungan yang dibina sekian lama sekiranya memiliki tujuan ternyata tidak ada sama sekali. Saya merasa ini bukan orang yang menyatakan cinta pada saya 3 tahun lalu. Bukan dia! Orang yang "nembak" saya dulu tampak sangat dewasa, bijaksana, dan yakin. Namun sekarang, saya harus mendengar ketakutan dan ketidakjelasan, totally different. He's not who is mine.
Saya ingin sekali menyalahkan diri saya, mencari apa kekurangan saya, namun saya sadar, saya harus menghargai diri saya sendiri. Terdengar selfish, tapi tidak! Nyatanya saya lebih berani dari pria yang saya pikir akan menuntun saya ke depannya nanti. Nyatanya dia bahkan tidak tahu harus ambil jalan kanan, kiri, atau lurus dalam perjalanannya. Karenanya, saya memilih jalan saya sendiri, menawarkan padanya, namun dia ketakutan memilih apakah harus berjalan dan melangkah bersama saya.
Saya pun memilih jalan, dan pilihannya saya berjalan sendiri. Saya sadar, nanti, suatu saat dalam perjalanan saya, saya akan berada pada titik terendah hidup saya. Merasa menjadi orang yang paling nelangsa. Namun saya sudah mengambil pilihan, kalau bukan saya yang menghargai diri saya, lalu siapa?
Tentu saya tidak mungkin mengharapkan pria yang bahkan tidak punya tujuan pada saya, untuk menghargai saya. Karena jika memang dia adanya, dengan yakin dia akan menuntun saya kemana pun jalan yang dia yakini baik.
Masa transisi ini sulit. Saya pikir begitu, namun saya harus menghargai orang-orang yang menghargai saya. Teman-teman yang tidak pernah ragu akan diri saya, keluarga yang selalu percaya pada saya.
Sekarang saya sadar, betapa baik orang berkata tentang kita, betapa banyak harta yang kita punya, ketika kita menilai tanpa melihat lebih dekat, apakah bijaksana?? Mungkin orang menilai apa yang mereka lihat, tapi hati tidak bisa dilihat. Lebih bijak dan lebih adil menilai orang, itu pelajarannya. Karena saya sudah tahu rasanya....
Selasa, 17 Januari 2012
Masa Kebingungan
Teman SMA saya akan menikah bulan depan. Tadi pagi dia ngetwit "time goes so fast" dan saya iseng meRT "and next month you're not single anymore". Dan dia pun membalas lg "you remind me".
Twit tadi menggelitik saya. I know her well. Menikah adalah suatu hal yang dia impikan sejak kecil. Oke! boong, saya kenal dia di SMA, tapu suer dehh dia memang sudah ingin menikah sejak dari umur belasan.
Dasar wanita ya, hari ini ingin ini besok bisa ingin yang lain. Saya contohnya, bisa saja hari ini saya memikirkan indahnya sebuah rumah tangga, pernikahan dan hal-hal yang berhubungan dengan itu. Tapi saya yakin menikah dan berumah tangga itu tidak sesimple ketika kita mengucapkan "gw dilamar!" atau "gw mau nikah!"
memikirkan mengurus sebuah rumah tangga, suami, anak, dan hal-hal lain seperti, bayar listrik, bayar pam. oh no!! banyak yang harus diayar ya! membuat saya terkadang jadi nyengir sendiri kalau membayangkan sebuah pernikahan.
Memang bakal ada seseorang yang akan selalu menemani kita. Setiap saat, tapi apa ga bosen ya?! Pacaran yang ga setiap hari ketemu aja bosen... Tapi klo kata mama itulah sebuah pernikahan. Mama saya wanita terhebat di dunia, dia memang bukan ibu yangs slalu memberikan wejangan, tapi dari stiap obrolan yang kami lewati, toh saya selalu dapat mengambil kesimpulan dari setiap obrolan kami.
Bahwa pasangan itu ya ga mungkin cocok, karena itu bersama untuk belajar saling mengerti dan saling memahami agar cocok. Cocok itu bukan dateng gitu aja, tapi dari proses.
Saya ingin menikah. Apalagi ketika kamu sudah pacaran dengan seseorang, dan kamu menyadari kamu bukan lagi gadis remaja, melainkan sudah dewasa. Tapi entah ini dirasakan semua wanita seumuran saya atau tidak. Terkadang melihat orang-orang yang sudah menikah, aman, tentram kita jadi kepingin. Tapi ketika memikirkan seabrek kewajiban yang akan datang ke kita dan itu semua tandanya kita harus membatasi semua gerak kita. Itu yang membuat saya berpikir lagi. Apalagi ketika kamu akhirnya berkenalan dengan yang namanya obsesi dan keinginan akan karier yang bagus.
Saya akan yakinkan kalau nanti suami saya adalah pria dewasa yangs selalu mendukung saya. Dan dia akan selalu mendukung setiap langkah yang saya ambil. Tapi bagaimana ceritanya ketika itu datang dari diri kamu sendiri. Satu sisi kamu ingin menjadi ibu yang baik, tapi di sisi lain kamu juga ingin menjadi wanita aktif dengan karier yang menjulang.
Oh My God....
Pasti pilihan sulit dehh..
Tapi mudah2an tidak buat saya. Karena intinya kamu hanya perlu mengetahui apa yang paling kamu inginkan di dunia ini dan di dalam hidupmu. Jika kamu ingin menjadi wanita egois yang penuh obsesi, siap2 saja kamu kesepian, tapi ketika hidupmu seimbang, maka kamu sadar tidak semua yang kamu inginkan akan kamu dapatkan.
Twit tadi menggelitik saya. I know her well. Menikah adalah suatu hal yang dia impikan sejak kecil. Oke! boong, saya kenal dia di SMA, tapu suer dehh dia memang sudah ingin menikah sejak dari umur belasan.
Dasar wanita ya, hari ini ingin ini besok bisa ingin yang lain. Saya contohnya, bisa saja hari ini saya memikirkan indahnya sebuah rumah tangga, pernikahan dan hal-hal yang berhubungan dengan itu. Tapi saya yakin menikah dan berumah tangga itu tidak sesimple ketika kita mengucapkan "gw dilamar!" atau "gw mau nikah!"
memikirkan mengurus sebuah rumah tangga, suami, anak, dan hal-hal lain seperti, bayar listrik, bayar pam. oh no!! banyak yang harus diayar ya! membuat saya terkadang jadi nyengir sendiri kalau membayangkan sebuah pernikahan.
Memang bakal ada seseorang yang akan selalu menemani kita. Setiap saat, tapi apa ga bosen ya?! Pacaran yang ga setiap hari ketemu aja bosen... Tapi klo kata mama itulah sebuah pernikahan. Mama saya wanita terhebat di dunia, dia memang bukan ibu yangs slalu memberikan wejangan, tapi dari stiap obrolan yang kami lewati, toh saya selalu dapat mengambil kesimpulan dari setiap obrolan kami.
Bahwa pasangan itu ya ga mungkin cocok, karena itu bersama untuk belajar saling mengerti dan saling memahami agar cocok. Cocok itu bukan dateng gitu aja, tapi dari proses.
Saya ingin menikah. Apalagi ketika kamu sudah pacaran dengan seseorang, dan kamu menyadari kamu bukan lagi gadis remaja, melainkan sudah dewasa. Tapi entah ini dirasakan semua wanita seumuran saya atau tidak. Terkadang melihat orang-orang yang sudah menikah, aman, tentram kita jadi kepingin. Tapi ketika memikirkan seabrek kewajiban yang akan datang ke kita dan itu semua tandanya kita harus membatasi semua gerak kita. Itu yang membuat saya berpikir lagi. Apalagi ketika kamu akhirnya berkenalan dengan yang namanya obsesi dan keinginan akan karier yang bagus.
Saya akan yakinkan kalau nanti suami saya adalah pria dewasa yangs selalu mendukung saya. Dan dia akan selalu mendukung setiap langkah yang saya ambil. Tapi bagaimana ceritanya ketika itu datang dari diri kamu sendiri. Satu sisi kamu ingin menjadi ibu yang baik, tapi di sisi lain kamu juga ingin menjadi wanita aktif dengan karier yang menjulang.
Oh My God....
Pasti pilihan sulit dehh..
Tapi mudah2an tidak buat saya. Karena intinya kamu hanya perlu mengetahui apa yang paling kamu inginkan di dunia ini dan di dalam hidupmu. Jika kamu ingin menjadi wanita egois yang penuh obsesi, siap2 saja kamu kesepian, tapi ketika hidupmu seimbang, maka kamu sadar tidak semua yang kamu inginkan akan kamu dapatkan.
Jumat, 30 Desember 2011
Bahasa Yang Baik Untuk Dikuasai
Ada tiga bahasa kuat yang tampaknya akan makin populer di hari esok, yakni Mandarin, Jepang, dan Jerman. Chew Say Loo, Vice President CNI, sebuah perusahaan MLM, yang kebetulan juga seorang ekspatriat dari Malaysia, dengan tegas mengatakan, bahasa Mandarin adalah bahasa kedua yang harus dikuasai setelah bahasa Inggris. Bahasa ini diyakininya membuka kesempatan berkarier di luar negeri, khususnya di Asia. Apalagi negara-negara seperti Cina, Hong Kong, Taiwan, dan Singapura kini sedang giat-giatnya melirik dan mempekerjakan tenaga kerja asing, termasuk WNI.
Perubahan kepentingan suatu bahasa, sangat dipengaruhi oleh seberapa penting arti perekonomian negara tersebut di mata dunia internasional. Chew memprediksikan, Cina yang berpenduduk paling banyak di dunia kelak akan menjadi negara yang menguasai perekonomian dunia. Jadi, bila ingin memiliki daya jual yang tinggi di bursa tenaga kerja internasional, seseorang harus menguasai bahasa Mandarin.
Pernyataan serupa juga muncul dari Catherine Keng, presenter berita Metro Xinwen. “Seseorang minimal harus menguasai dua bahasa asing, supaya bisa bertahan dan laku di pasar kerja Asia, yakni Inggris dan Mandarin. Buktinya, saya sering dimintai tolong mencarikan karyawan yang fasih berbahasa Mandarin oleh berbagai perusahaan.” Catherine mengamati, pengajaran bahasa Mandarin di Indonesia kini berkembang makin pesat di era reformasi. Kini kita tak harus membuang biaya besar dan khusus terbang ke Beijing untuk belajar. Asal disiplin dan dilakukan secara intensif, belajar di Indonesia juga tak kentara perbedaannya. Catherine mengatakan, bahkan banyak rekan seprofesinya di Metro Xinwen justru belajar bahasa Mandarin di Indonesia.
Bahasa Jepang juga tak kalah penting. Walau Jepang kini tak lagi menguasai perekonomian Asia, masih banyak perusahaan Jepang tetap menanamkan investasinya di Indonesia. Bagi Jepang, Indonesia tetap merupakan pasar yang amat besar bagi produk dan teknologi yang mereka kembangkan. “Paling tidak kesempatan diterima di perusahaan Jepang yang menjanjikan imbalan dan jenjang karier yang jelas.akan terbuka lebar, jika Anda menguasai basic bahasa Jepang. Bukan tidak mungkin Anda bisa terpilih mengikuti pelatihan di Negeri Sakura. Bahasa Jepang juga tetap favorit dipelajari karena melesatnya perkembangan fashion dan dunia animasi Jepang,” kata Lincoln, berpendapat.
Maulina Rahmawati, direktur bagian bahasa di Berlitz Language Center, berpendapat, masih ada satu bahasa lain yang menyimpan potensi di masa depan, yakni bahasa Jerman. Jerman memang raja teknologi di kawasan Eropa dan banyak membuka peluang kerja bagi WNI. Pemerintah Jerman juga dikenal royal menawarkan beasiswa untuk mahasiswa Indonesia. Lincoln yang mengamini pendapat Maulina menganjurkan agar para wanita yang berprestasi di bidang teknik untuk tidak melewatkan kesempatan emas tersebut dengan cara mempelajari bahasa Jerman. “Belum banyak wanita yang berprestasi di dunia teknik dan menguasai bahasa Jerman. Jadi, harga jualnya pasti tinggi,” ujarnya, memberi alasan.
Kemampuan berbahasa asing yang populer ternyata tak hanya dapat memuluskan karier, tetapi juga dapat meningkatkan rasa percaya diri dan meningkatkan kualitas hidup. Chew, yang fasih berkomunikasi dalam 3 bahasa: Inggris, Mandarin, dan Melayu (plus dialek bahasa Cina-Hokkian), merasakan sendiri manfaatnya. “Dengan modal tiga bahasa tersebut, saya tak perlu merasa waswas ditempatkan di pelosok dunia mana pun. Saya bisa mingle dan nyambung dengan penduduk lokal Dari sisi sosialisasi, karier, dan berkomunikasi, saya merasa bisa bersaing dengan siapa pun,” katanya.
Masih ada satu bahasa lain yang menyimpan potensi di masa depan, yakni bahasa Jerman. Jerman memang raja teknologi di kawasan Eropa dan banyak membuka peluang kerja bagi WNI. Pemerintah Jerman juga dikenal royal menawarkan beasiswa untuk mahasiswa Indonesia. Lincoln yang mengamini pendapat Maulina menganjurkan agar para wanita yang berprestasi di bidang teknik untuk tidak melewatkan kesempatan emas tersebut dengan cara mempelajari bahasa Jerman.
Kemampuan berbahasa asing yang populer ternyata tak hanya dapat memuluskan karier, tetapi juga dapat meningkatkan rasa percaya diri dan meningkatkan kualitas hidup.
Perubahan kepentingan suatu bahasa, sangat dipengaruhi oleh seberapa penting arti perekonomian negara tersebut di mata dunia internasional. Chew memprediksikan, Cina yang berpenduduk paling banyak di dunia kelak akan menjadi negara yang menguasai perekonomian dunia. Jadi, bila ingin memiliki daya jual yang tinggi di bursa tenaga kerja internasional, seseorang harus menguasai bahasa Mandarin.
Pernyataan serupa juga muncul dari Catherine Keng, presenter berita Metro Xinwen. “Seseorang minimal harus menguasai dua bahasa asing, supaya bisa bertahan dan laku di pasar kerja Asia, yakni Inggris dan Mandarin. Buktinya, saya sering dimintai tolong mencarikan karyawan yang fasih berbahasa Mandarin oleh berbagai perusahaan.” Catherine mengamati, pengajaran bahasa Mandarin di Indonesia kini berkembang makin pesat di era reformasi. Kini kita tak harus membuang biaya besar dan khusus terbang ke Beijing untuk belajar. Asal disiplin dan dilakukan secara intensif, belajar di Indonesia juga tak kentara perbedaannya. Catherine mengatakan, bahkan banyak rekan seprofesinya di Metro Xinwen justru belajar bahasa Mandarin di Indonesia.
Bahasa Jepang juga tak kalah penting. Walau Jepang kini tak lagi menguasai perekonomian Asia, masih banyak perusahaan Jepang tetap menanamkan investasinya di Indonesia. Bagi Jepang, Indonesia tetap merupakan pasar yang amat besar bagi produk dan teknologi yang mereka kembangkan. “Paling tidak kesempatan diterima di perusahaan Jepang yang menjanjikan imbalan dan jenjang karier yang jelas.akan terbuka lebar, jika Anda menguasai basic bahasa Jepang. Bukan tidak mungkin Anda bisa terpilih mengikuti pelatihan di Negeri Sakura. Bahasa Jepang juga tetap favorit dipelajari karena melesatnya perkembangan fashion dan dunia animasi Jepang,” kata Lincoln, berpendapat.
Maulina Rahmawati, direktur bagian bahasa di Berlitz Language Center, berpendapat, masih ada satu bahasa lain yang menyimpan potensi di masa depan, yakni bahasa Jerman. Jerman memang raja teknologi di kawasan Eropa dan banyak membuka peluang kerja bagi WNI. Pemerintah Jerman juga dikenal royal menawarkan beasiswa untuk mahasiswa Indonesia. Lincoln yang mengamini pendapat Maulina menganjurkan agar para wanita yang berprestasi di bidang teknik untuk tidak melewatkan kesempatan emas tersebut dengan cara mempelajari bahasa Jerman. “Belum banyak wanita yang berprestasi di dunia teknik dan menguasai bahasa Jerman. Jadi, harga jualnya pasti tinggi,” ujarnya, memberi alasan.
Kemampuan berbahasa asing yang populer ternyata tak hanya dapat memuluskan karier, tetapi juga dapat meningkatkan rasa percaya diri dan meningkatkan kualitas hidup. Chew, yang fasih berkomunikasi dalam 3 bahasa: Inggris, Mandarin, dan Melayu (plus dialek bahasa Cina-Hokkian), merasakan sendiri manfaatnya. “Dengan modal tiga bahasa tersebut, saya tak perlu merasa waswas ditempatkan di pelosok dunia mana pun. Saya bisa mingle dan nyambung dengan penduduk lokal Dari sisi sosialisasi, karier, dan berkomunikasi, saya merasa bisa bersaing dengan siapa pun,” katanya.
Masih ada satu bahasa lain yang menyimpan potensi di masa depan, yakni bahasa Jerman. Jerman memang raja teknologi di kawasan Eropa dan banyak membuka peluang kerja bagi WNI. Pemerintah Jerman juga dikenal royal menawarkan beasiswa untuk mahasiswa Indonesia. Lincoln yang mengamini pendapat Maulina menganjurkan agar para wanita yang berprestasi di bidang teknik untuk tidak melewatkan kesempatan emas tersebut dengan cara mempelajari bahasa Jerman.
Kemampuan berbahasa asing yang populer ternyata tak hanya dapat memuluskan karier, tetapi juga dapat meningkatkan rasa percaya diri dan meningkatkan kualitas hidup.
Rabu, 28 Desember 2011
Mengapa Harga Tas Hermès Begitu Mahal?
Merek tas yang satu ini sering kali jadi simbol status. Maklum, harganya selangit. Tetapi tahukah Anda kenapa harga sebuah tas Hermès bisa sedemikian mahalnya?
Pembicaraan tentang selebritas A atau sosialita B menenteng tas Hermès yang seolah menjadi simbol status tak jarang kita dengar. Salah satu tas Hermès yang paling populer adalah Birkin Bag.
Tas Birkin tercipta dari hasil curhatan aktris Jane Birkin kepada bos Hermès, Jean-Louis Dumas pada tahun 1981. Jane yang satu pesawat dengan Dumas dibuat repot dengan tasnya. Ketika itu Jane berusaha meletakkan tasnya di bagasi atas kursi namun isinya kemudian tumpah dan berantakan.
Kepada Dumas, Jane mengeluhkan sulitnya mencari tas kulit yang berkualitas dan fungsional untuk bepergian. Dumas berusaha membuat tas tersebut dengan inspirasi dari model tas serupa tahun 1892. Pada tahun 1984, terciptalah tas dari Hermès untuk Jane Birkin yang kemudian menjadi salah satu tas ikonik.
Sejak terciptanya, tas Birkin menjadi tas mewah yang langka. Sebagai merek, Hermès memang selalu berusaha mempertahankan citra produknya yang eksklusif dan bergengsi. Perusahaan yang lahir tahun 1837 itu berupaya agar produknya tidak pasaran dan hanya bisa dimiliki oleh orang tertentu. Hasilnya, tas Hermès bukan hanya sekadar produk fashion tapi juga simbol status.
Berbagai selebritas dunia seperti Victoria Beckham, Kim Kardashian, Katie Holmes, sampai Lady Gaga pernah terlihat menenteng tas tersebut. Di Indonesia pun tak sedikit yang terlihat tampil dengan tas Birkin. Dian Sastrowardoyo, Krisdayanti, Diana Pungky, Bunga Citra Lestari, Rossa, Maia, sampai Nunun Daradjatun pernah terlihat membawa tas Birkin andalan sebagai pelengkap penampilan.
Harga tas Birkin bisa berkisar mulai dari $ 8 ribu hingga $ 20 ribu. Harga tas ini tergantung dari bahan yang digunakan, hiasan yang menyertai, dan eksklusifitas tas tersebut.
Jika melihat film dokumenter “Hearts & Crafts (People That Make Hermès)”, rumah mode pujaan banyak selebritas dunia itu memang tak mau memproduksi massal barang-barangnya. Semua produknya dikerjakan dengan tangan secara khusus. Mulai dari memotong, menjahit, sampai penyelesaiannya dilakukan oleh orang yang ahli dengan sangat teliti. Jahitan khusus yang merupakan ciri khas Hermès sejak awal menjadi salah satu faktor yang membuat tas Hermès semakin berkualitas.
Satu buah tas Hermès bisa memakan waktu produksi 24-36 jam. Karena dikerjakan dengan tangan satu-persatu, maka tak ada detail tas Hermès yang bisa sangat serupa. Cacat sedikit dalam produksi maka tas tersebut akan masuk ke dalam pembuangan dan dimusnahkan. Tas yang tak sesuai standar tak boleh dijual dan harus dihancurkan demi menjaga kualitas.
Beberapa tahun lalu, untuk memiliki sebuah tas Birkin tak semudah datang ke toko dan membayar. Seorang pembeli bisa masuk daftar tunggu sampai 6 tahun demi mendapatkan tas Birkin idaman.
Namun kini Hermès tak lagi memberlakukan sistem daftar tunggu. Jika stok tersedia, pembeli bisa langsung membawa pulang tas yang diinginkannya. Demi memenuhi permintaan yang tinggi, Hermès telah merekrut seratusan pengrajin baru untuk memperkuat sekitar 2000 pekerja yang sudah ada.
Tas Birkin menggunakan bahan utama kulit. Bermacam-macam kulit digunakan mulai dari sapi, domba, burung unta, ular, reptil dan buaya. Untuk kulit burung unta, Hermès hanya menggunakan bagian bokong yang lebih lembut daripada bagian lainnya.
Untuk mempercantik penampilan, bagian gembok, kunci, dan bagian lain yang terbuat dari logam kemudian dilapisi emas atau palladium. Tak jarang, beberapa butir berlian juga digunakan untuk menambah kesan mewah.
Salah satu tas Hermès termahal berhasil terjual seharga $ 203,150 atau kurang lebih Rp 1,8 miliar dalam sebuah lelang. Tas berwarna merah yang terbuat dari kulit buaya dan dilengkapi berlian tersebut, dibeli oleh seorang kolektor tas yang enggan mengungkapkan identitasnya.
Minggu, 25 Desember 2011
KRL Tidak Efektif (2)
Setelah merasakan rute baru KRL yang membuat tidak nyaman, saya kembali merasakan ketidaknyamanan KRL untuk yang kedua kalinya. kali ini tujuan saya ke Pasar Senen.
Sebelum perubahan rute yang baru, KRL dari Bekasi menuju Kota melewati Pasar Senen. itu artinya saya bisa langsung turun di P.senen tanpa harus transit. Namun perubahan rute membuat tujuan ke P.Senen menjadi tidak efektif menurut saya.
contohnya saja yang abru saya alami. saya dan mama hendak ke P.Senen. diberitahukan oleh penjaga karcis bahwa kami harus transit di Jatinegara untuk selanjutnya pindah ke kereta yang tujuan tanah abang atau bogor saya lupa. intinya kami harus transit di Jatinegara untuk ganti kereta. Lagi-lagi penjaga karcis mengatakan bahwa kereta sebentar lagi akan tiba, tapi nyatanya saya dan mama menunggu lebih dari 45 menit kedatangan keretanya. ini saja sudah membuat saya sebal. kereta datang saya pun naik sambil menggerutu ini benar-enar yang terakhir saya naik KRL Bekasi. cukup 2x saya dibuat menunggu kereta satu jam lamanya.
Teryata menunggu lama kereta di Cakung belum cukup. Ketika turun di Stasiun Jatinegara saya mendengar informasi, lagi-lagi kereta yang melewati p.senen masih berada Kampung Bandan. Saya masih menunggu konfirmasi berikutnya, tapi tidak ada pemberitahuan selanjutnya. saya pun bertanya pada security tentang posisi kereta. katanya belum ada pengumuan lagi td masih di Kampung Bandan. tanpa pikir panjang akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menggunakan angkutan umum saja.
Saya dan kelurga merupakan pengguna KRL Bekasi - Kota yang melewati Pasar Senen. aKenapa kami begitu menyukai KRL karena cepat dan murah. tapi dengan adanya perubahan rute ini sungguh membuat tidak nyaman dan tidak efektif bagi waktu. Lamanya kereta datang, transit, kembali menunggu kereta benar-benar tidak membuat menjadi nyaman dari sebelumnya. Bahakn ini membuat masyarakat menjadi Malas menggunakan KRL. Ini tentu kurang sejalan dengan targe penumpang yang ditargetkan pihak PT.KAI.
Sebelum perubahan rute ini, perjalanan Cakung- P. Senen paling hanya membutuhkan waktu 30 menit kurang, tidak harus transit yang artinya turun dan menunggu lagi. Ya berharapnya sih PT.KAI sudah memikirkan matang-matang oerubahan rute ini. Dan tanggap serta sigap jika memang terbukti rute ni tidak efektif.
Sebelum perubahan rute yang baru, KRL dari Bekasi menuju Kota melewati Pasar Senen. itu artinya saya bisa langsung turun di P.senen tanpa harus transit. Namun perubahan rute membuat tujuan ke P.Senen menjadi tidak efektif menurut saya.
contohnya saja yang abru saya alami. saya dan mama hendak ke P.Senen. diberitahukan oleh penjaga karcis bahwa kami harus transit di Jatinegara untuk selanjutnya pindah ke kereta yang tujuan tanah abang atau bogor saya lupa. intinya kami harus transit di Jatinegara untuk ganti kereta. Lagi-lagi penjaga karcis mengatakan bahwa kereta sebentar lagi akan tiba, tapi nyatanya saya dan mama menunggu lebih dari 45 menit kedatangan keretanya. ini saja sudah membuat saya sebal. kereta datang saya pun naik sambil menggerutu ini benar-enar yang terakhir saya naik KRL Bekasi. cukup 2x saya dibuat menunggu kereta satu jam lamanya.
Teryata menunggu lama kereta di Cakung belum cukup. Ketika turun di Stasiun Jatinegara saya mendengar informasi, lagi-lagi kereta yang melewati p.senen masih berada Kampung Bandan. Saya masih menunggu konfirmasi berikutnya, tapi tidak ada pemberitahuan selanjutnya. saya pun bertanya pada security tentang posisi kereta. katanya belum ada pengumuan lagi td masih di Kampung Bandan. tanpa pikir panjang akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menggunakan angkutan umum saja.
Saya dan kelurga merupakan pengguna KRL Bekasi - Kota yang melewati Pasar Senen. aKenapa kami begitu menyukai KRL karena cepat dan murah. tapi dengan adanya perubahan rute ini sungguh membuat tidak nyaman dan tidak efektif bagi waktu. Lamanya kereta datang, transit, kembali menunggu kereta benar-benar tidak membuat menjadi nyaman dari sebelumnya. Bahakn ini membuat masyarakat menjadi Malas menggunakan KRL. Ini tentu kurang sejalan dengan targe penumpang yang ditargetkan pihak PT.KAI.
Sebelum perubahan rute ini, perjalanan Cakung- P. Senen paling hanya membutuhkan waktu 30 menit kurang, tidak harus transit yang artinya turun dan menunggu lagi. Ya berharapnya sih PT.KAI sudah memikirkan matang-matang oerubahan rute ini. Dan tanggap serta sigap jika memang terbukti rute ni tidak efektif.
KRL Tidak Efektif
Perubahan rute KRL Jabodetabek awalnya tidak terlalu meresahkan saya. Bahkan awalnya saya berpikir suatu keuntungan buat saya yang tinggal di Cakung. beradasarakn pengumuman perubahan rute KRL bahwa kereta Bekasi-Kota yang tadinya melewati Stasiun Pasar Senen dan sekitarnya dirubah menjadi Bekasi-kota dengan rute melewati Stasiun Manggarai yang lalu melewati Cikini, Gondangdia, Gambir, lalu terakhir di Kota.
Karena mengetahui rute baru KRL Bekasi yang semuanya melewati Manggarai dan diberitakan bahwa penumpang yang mau ke Bogor tinggal transit di Manggarai, saya pun tertarik mencoba karena kebetulan kampus saya yang terletak di daerah Lenteng Agung. Berharap mengirit ongkos pergi dan mempersingkat waktu perjalanan akhirnya sayang mencoba untuk menikmati rute baru yang di awal perubahannya terjadi penolakan dari pengguna KRL.
Jadi ternyata sekarang di stasiun Cakung disediakan tiket terusan bagi penumpang yang akan ke Depok atau Bogor. Karcis terusan ini berharga rp.13500,00 yang artinya sama dengan dua kali tiket KRL Commuterline Bekasi-Kota, Kota-Bogor. Saya agak terkejut dengan harga tiket terusan ini. Dalam hati saya berkata ini sih sama saja, malah boros itungannya dibans=ding saya naik Metromini ke Tebet. namun karena berharap waktu perjalanan yang singkat saya pun memutuskan untuk mencoba tiket terusan ini.
Saya bertanya pada penjaga karcis jam berapa kereta akan datang, dan dia mengatakan sebentar lagi akan datang. Namun kecewa saya dibuatnya. Ternyata kereta bahkan belumsamapai di Stasiun Bekasi.artinya masih sering terjadi keterlambatan kereta, tentu saja ini meruapakn masalah yang belum terselesaikan. Perubahan rute nyatanya tidka mebuat KRL menjadi tepat waktu.
hampir satu jam saya menunggu KRL, dan ketika datang, seperti yang sudah diperkirakan ketika KRL telat yaitu terjadi penumpukan penumpang. KRL Commuterline yang saya gunakan sudah dipenuhi penumpang, padahal Satsiun Cakung adalah stasiun ketiga setelah Bekasi dan Kranji.
Commuterline pun mengikuti jalur barunya yaitu melewati Manggarai. saya pun turun di Manggarai. karena sudah membeli tiket terusan (jujur! awalnya saya pikir dengan ada siste transit, sistem tiket di KRL sama seperti di Transjakarta, tiket satu harga dan tidak membeli lagi ketika transit. baru saja turun dai Comuterline saya mendengar pengumuman tentang posisi Commuterline tujuan Bogor masih berada di Bukit Duri, yang artinya itu masih lama kedatangan Commuterline. Dan karena keterlambatan Kereta hari itu saya ketinggalan kelas kuliah pada jam tersebut. sekitar setengah jam menunggu akhirnya commuterline saya datang. dan saya menggerutu tidak akan menggunakan commuterline bekasi lagi.
saya pengguna KRL sejak 2008. saya yang kuliah di Lenteng Agung dan rumah di Cakung menggunakan jasa KRL RUTE kOTA-DEPOK / BOGOR. Saya naik dari Staisun Tebet, dan naik Metromini 52 dari rumah menuju Tebet. saya merasakan KRL kOTA-bOGOR masih lebih nyaman dari KRL Bekasi-kota. nyaman disini dari segi kedatangan kereta yang lebih banyak daripada dari Bekasi-Kota.
Karena mengetahui rute baru KRL Bekasi yang semuanya melewati Manggarai dan diberitakan bahwa penumpang yang mau ke Bogor tinggal transit di Manggarai, saya pun tertarik mencoba karena kebetulan kampus saya yang terletak di daerah Lenteng Agung. Berharap mengirit ongkos pergi dan mempersingkat waktu perjalanan akhirnya sayang mencoba untuk menikmati rute baru yang di awal perubahannya terjadi penolakan dari pengguna KRL.
Jadi ternyata sekarang di stasiun Cakung disediakan tiket terusan bagi penumpang yang akan ke Depok atau Bogor. Karcis terusan ini berharga rp.13500,00 yang artinya sama dengan dua kali tiket KRL Commuterline Bekasi-Kota, Kota-Bogor. Saya agak terkejut dengan harga tiket terusan ini. Dalam hati saya berkata ini sih sama saja, malah boros itungannya dibans=ding saya naik Metromini ke Tebet. namun karena berharap waktu perjalanan yang singkat saya pun memutuskan untuk mencoba tiket terusan ini.
Saya bertanya pada penjaga karcis jam berapa kereta akan datang, dan dia mengatakan sebentar lagi akan datang. Namun kecewa saya dibuatnya. Ternyata kereta bahkan belumsamapai di Stasiun Bekasi.artinya masih sering terjadi keterlambatan kereta, tentu saja ini meruapakn masalah yang belum terselesaikan. Perubahan rute nyatanya tidka mebuat KRL menjadi tepat waktu.
hampir satu jam saya menunggu KRL, dan ketika datang, seperti yang sudah diperkirakan ketika KRL telat yaitu terjadi penumpukan penumpang. KRL Commuterline yang saya gunakan sudah dipenuhi penumpang, padahal Satsiun Cakung adalah stasiun ketiga setelah Bekasi dan Kranji.
Commuterline pun mengikuti jalur barunya yaitu melewati Manggarai. saya pun turun di Manggarai. karena sudah membeli tiket terusan (jujur! awalnya saya pikir dengan ada siste transit, sistem tiket di KRL sama seperti di Transjakarta, tiket satu harga dan tidak membeli lagi ketika transit. baru saja turun dai Comuterline saya mendengar pengumuman tentang posisi Commuterline tujuan Bogor masih berada di Bukit Duri, yang artinya itu masih lama kedatangan Commuterline. Dan karena keterlambatan Kereta hari itu saya ketinggalan kelas kuliah pada jam tersebut. sekitar setengah jam menunggu akhirnya commuterline saya datang. dan saya menggerutu tidak akan menggunakan commuterline bekasi lagi.
saya pengguna KRL sejak 2008. saya yang kuliah di Lenteng Agung dan rumah di Cakung menggunakan jasa KRL RUTE kOTA-DEPOK / BOGOR. Saya naik dari Staisun Tebet, dan naik Metromini 52 dari rumah menuju Tebet. saya merasakan KRL kOTA-bOGOR masih lebih nyaman dari KRL Bekasi-kota. nyaman disini dari segi kedatangan kereta yang lebih banyak daripada dari Bekasi-Kota.
Twilight Saga : Breaking Dawn
The Twilight Saga: Breaking Dawn tidak hanya ditunggu oleh para Twi-Hards (sebutan para penggemar berat Twilight), namun juga penggemar film lainnya. Film keempat dari cerita yang diadaptasi dari buku laris Twilight ini tentunya merupakan lanjutan kisah percintaan antara vampire tampan Edward Cullen (Robert Pattinson) dan si cantik Isabella Swan (Kristen Stewart).Dalam part pertama ini akhirnya Edward memutuskan untuk menikahi Bella. Jacob Black (Taylor Lautner) pun patah hati ketika membaca undangan pernikahan Bella dan pergi menghilang.
Acara pernikahan manusia dan vampire ini pun digambarkan begitu indah. Tidak salah jika Bill Condon sang Director begitu menutupi syuting adegan ini. Apalagi mengenai baju pernikahan Bella yang membuat semua orang penasaran. Namun tanpa disangka Jacob datang di pernikahan Bella, Bella pun sangat bahagia, walau pada akhirnya dia dan Jacob kembali bersitegang tentang keputusan itu. Namun itu semua tidak mengurangi kebahagiaan Bella. Edward pun membawanya ke Brazil untuk bulan madu. Tidak di kotanya, melainkan di sebuah pulau indah milik Esme.Dan mereka pun menikmati hari-hari bulan madu mereka sampai Bella hamil.
Berita yang seharusnya menjadi kabar gembira ini tidak membuat Edward bahagia tampaknya. Bayi yang dikandung Bella tentu saja bukan bayi biasa. Dr. Carlisle Cullen tidak bisa mendeteksi janin Bella, karena sang janin tidak bias terlihat di USG.Edward semakin tidak bisa menerima kehamilan Bella, karena dia tahu bayi ini akan mengancam nyawa Bella. Karenanya dia meminta Jacob untuk membujuk Bella. Namun Bella tetap dengan keputusannya. Tidak hanya itu, kelompok Quileute berusaha untuk membunuh Bella, karena menurutnya dia akan melahirkan “bayi abadi”. Karena itu Jacob terpaksa menentang teman-temannya sendiri dan melindungi Bella.
Film pun diakhiri dengan adegan Bella melahirkan. Saat Bella kritis dalam usaha mengeluarkan bayinya, Edward pun mengigitnya. Anak bella pun lahir dengan selamat.
Breaking Dawn part 1 dinilai membosankan karena hanya menceritakan kehidupan setelah menikah antara Edward dan Bella. Karena itu sebagian besar adegan film ini pun adegan mesra antara pengantin baru ini. Selain itu ceritanya hanya berputar disitu-situ saja. Ini karena memang Breaking Dwan part 1 pengantar untuk film part 2 nya. Cerita novel yang panjang tidak bisa dipaksakan untuk menjadi satu film. Seperti alasan yang dipakai tim film Harry Potter.Mungkin yang pantas diacungi jempol untuk Condon bagaimana dia begitu indah mengeksekusi pernikahan Edward dan Bella. Tidak hanya itu kemampuan acting Stewart pun akhirnya dilihatkan sedikit menonjol ketika adegan dia hamil. Dan tidak kalah penting bagaimana Taylor Lautner semakin menawan memerankan Jacob Black. Aktingnya terlihat semakin matang. Ini membuat sosok Edward terlihat kalah bertanggung jawab dibanding Jacob. Namun tetap saja film ini banyak ditunggu dan membuat penasaran bagi para penonton untuk segera menyaksikan film terakhir dari seri The Twilight Saga ini.
Release date : 18 November 2011 (USA)
Genre : Adventure | Drama | Fantasy
info : http://www.imdb.com/title/tt1324999/
Director: Bill Condon
Writers: Melissa Rosenberg (screenplay), Stephenie Meyer (novel)
Stars: Kristen Stewart, Robert Pattinson and Taylor Lautner
Hammersonic Festival Siap Digelar di 2012
Jakarta – Revision Entertainment kembali menggelar event terbesarnya yang bertajuk Hammersonic, sebuah festival musik metal yang diklaim sebagai yang terbesar di Asia Tenggara siap digelar oleh promotor Revision Entertainment pada hari Sabtu, 28 April 2012.
Acara yang akan digelar tidak lama lagi ini akan menghadirkan beberapa band metal legendaris internasional dan nasional telah dikonfirmasi untuk tampil di festival tersebut. Mereka antara lain adalah D.R.I. (AS), Suffocation (AS), Nile (AS), Psycroptic (Australia), Impiety (Singapura), Chtonic (Taiwan), Burgerkill, Deadsquad, Seringai, Death Vomit, Death Vertical, Sucker Head hingga Dreamer.
Sampai dengan saat ini masih ada beberapa band yang masih dalam tahap negoisasi dengan pihak prmotor untuk mengisi headliner dan co-headliner di festival Hammersonic. Selain itu juga untuk tempat dan harga tiket Hammersonic ini masih belum diketahui karena pihak promotor masih dalam tahap penyelesaian.
“Kami melihat Indonesia sebagai salah satu negara dengan penggemar musik metal terbesar di dunia sampai sekarang belum memiliki festival yang mampu mewakili negara ini di tingkat internasional, mudah-mudahan Hammersonic nantinya dapat menjadi Wacken di Asia Tenggara,” jelas Ravel Junardy, selaku promotor dari Revision Entertainment, Seperti yang dikutip RS Indonesia.
Untuk informasi lebih lanjut tentang Hammersonic silakan mengunjungi situs resmi mereka di sini, www.hammersonic.com atau follow akun Twitter @HammersonicFest. Iklan tentang festival Hammersonic juga dapat disaksikan di sini.
Acara yang akan digelar tidak lama lagi ini akan menghadirkan beberapa band metal legendaris internasional dan nasional telah dikonfirmasi untuk tampil di festival tersebut. Mereka antara lain adalah D.R.I. (AS), Suffocation (AS), Nile (AS), Psycroptic (Australia), Impiety (Singapura), Chtonic (Taiwan), Burgerkill, Deadsquad, Seringai, Death Vomit, Death Vertical, Sucker Head hingga Dreamer.
Sampai dengan saat ini masih ada beberapa band yang masih dalam tahap negoisasi dengan pihak prmotor untuk mengisi headliner dan co-headliner di festival Hammersonic. Selain itu juga untuk tempat dan harga tiket Hammersonic ini masih belum diketahui karena pihak promotor masih dalam tahap penyelesaian.
“Kami melihat Indonesia sebagai salah satu negara dengan penggemar musik metal terbesar di dunia sampai sekarang belum memiliki festival yang mampu mewakili negara ini di tingkat internasional, mudah-mudahan Hammersonic nantinya dapat menjadi Wacken di Asia Tenggara,” jelas Ravel Junardy, selaku promotor dari Revision Entertainment, Seperti yang dikutip RS Indonesia.
Untuk informasi lebih lanjut tentang Hammersonic silakan mengunjungi situs resmi mereka di sini, www.hammersonic.com atau follow akun Twitter @HammersonicFest. Iklan tentang festival Hammersonic juga dapat disaksikan di sini.
Poconggg Juga Pocong The Movie
Poconggg Juga PocongBagi Tweeps, mungkin tidak asing lagi dengan akun @poconggg. Ya! Akun twitter milik Arief Muhammad ini memiliki banyak followers karena keunikan tweetnya tentang parodi kehidupan makhluk halus jenis pocong ini.
Film Poconggg Juga Pocong diangkat dari buku dengan judul yang sama karya Arief Muhammad. Penggemar yang memang sudah banyak, serta lelucon segar hasil kreatif Arief membuat buku ini menjadi penjualan terlaris dan tercepat. Jadi tidak salah jika film ini banyak diburu para produser untuk segera divisualisasikan ke dalam sebuah movie.
Kisahnya berawal dari pemuda bernama Dimas (Ajun Perwira) yang harus menerima dirinya sudah menjadi Pocong. Kecelakaan tragis merenggut nyawanya. Kini ia harus menghadapi dunia barunya sebagai Poconggg. Di kalangan pocong, Dimas atau Poconggg dianggap pocong yang terlalu lugu dan begitu menyedihkan –Poconggg takut dengan sesama pocong- membuat Anjaw (Rizky Mocil) dkk senang untuk mengganggunya. Untung saja ada si Kunti (Nycta Gina) yang bersedia untuk melatihnya menjadi pocong sejati. Tidak hanya itu, Kunti juga menjadi teman curhat yang baik untuk Poconggg. Maklum, poconggg juga pocong galau karena cinta dengan teman dekatnya semasa hidup Sheila (Saphira Indah) tidak sempat tersampaikan. Keadaan semakin buruk buat Pocongg ketika tahu Sheila sedang didekati cowok lain yaitu Adit (Guntur Triyoga).
Arief Muhammad dan Haqi Ahmad sukses membuat sebuah skenario dari bukunya. Memang isi buku merupakan cerita-cerita pendek dengan cerita yang beraneka ragam. Namun di filmnya ini, Arief membuat sebuah jalan cerita yang memiliki benang merah yaitu kisah cinta si pocongg. Dan dengan bumbu-bumbu cerita yang memang konyol.Acting Ajun tidak menonjol, malah Nycta Gina sebagai Kunti centil lebih loveable dibandingkan si tokoh utama. Dengan porsi adegan yang tidak banyak, penonton mencari-cari kemana si kunti centil ini.
Kebanyolan dan kelucuan Kunti dan Anjaw sukses menghidupkan ceritanya, disamping memang skenario yang bagus dengan dialog yang dapat memancing tawa penonton. Namun istimewanya, toh Nycta Gina dapat melepaskan image Jeng Kelin yang memang sudah melekat pada dirinya, dan dia sukses membawakan sosok Kunti centil disini.
Film komedi ini menawarkan jalan cerita yang ringan dan lucu. Poconggg Juga Pocong diakui berhasil menterjemahkan cerita dari buku Poconggg Juga Pocong dan disajikan dengan komedi yangs segar. Intinya film ini mampu memuaskan followers setia @poconggg yang memang sudah mengikuti kisahnya semenjak semula. Dan bagi yang bukan penggemar, film ini mampu membuat anda tertawa selama 78 menit penayangannya.
Jenis Film :Comedy/romatic
Produser :Ody Mulya Hidayat, Endang Marlina, Cahaya Sinaga, Yoska Oktaviano
Produksi :Maxima Pictures Radio Ms Tri FmRating
LSF :Remaja (teen)
Pemain :Ajun Perwira
Nycta Gina
Saphira Indah
Guntur Triyoga
Sutradara :Chiska Doppert
Langganan:
Postingan (Atom)
-beth-QC-ok.jpg)




